MisindoGlobalNews, Jakarta, 22 gustus 2026 - Universitas Pertamina (UPER) terus mendorong pengembangan kimia hijau sebagai salah satu pendekatan untuk mendukung transformasi industri menuju proses produksi yang lebih efisien, aman, dan ramah lingkungan.
Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan riset serta kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan mitra internasional. Upaya ini dinilai penting mengingat sektor industri memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional sekaligus menjadi salah satu pengguna energi terbesar.
Memasuki paruh kedua 2026, UPER kembali memperkuat kiprahnya dalam pengembangan green chemistry. Komitmen tersebut merupakan kelanjutan dari keterlibatan UPER sebagai koordinator nasional Global Greenchem Innovation and Network Program (GGINP) Indonesia sejak 2024.
Salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan adalah Green Chemistry for Industrial Excellence (GCIE) 2026 yang digelar di Makassar pada Juli 2026. Kegiatan bersama GGINP Indonesia tersebut mempertemukan sekitar 50 pelaku industri yang berasal dari 31 perusahaan dan institusi.
Forum tersebut menjadi sarana pertukaran pengetahuan sekaligus membahas bagaimana prinsip kimia hijau dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan industri secara langsung.
Direktur Industri Kimia Hijau Kementerian Perindustrian, Wiwik Pudjiastuti, yang hadir dalam kegiatan itu menekankan pentingnya menghubungkan kebijakan pemerintah dengan inovasi yang dikembangkan kalangan akademisi dan pelaku industri.
Menurutnya, penerapan kimia hijau dapat membantu industri meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya sekaligus menekan dampak lingkungan dari proses produksi.
Selain GCIE, upaya mendorong keterlibatan generasi muda diwujudkan melalui Greenovate Challenge 2026: Green Chemistry Policy Challenge. Program ini mengajak peserta menyusun policy brief yang menawarkan gagasan terhadap berbagai persoalan dalam pengembangan industri bioetanol nasional.
Director of Accelerator Program GGINP Indonesia sekaligus Dosen Kimia UPER, Dr. Eng. Paramita Jaya Ratri, M.Si., S.Si., mengatakan perspektif generasi muda diperlukan untuk menghasilkan gagasan baru yang dapat diterapkan dalam menghadapi tantangan industri.
Tak hanya menyasar kalangan industri dan mahasiswa, pengenalan kimia hijau juga dilakukan melalui sektor pendidikan. Dalam GCIE 2026, sebanyak 38 guru kimia dari 32 SMA dan sederajat di Makassar memperoleh pembekalan mengenai metode pembelajaran kimia hijau yang kontekstual dan berorientasi pada keberlanjutan.
Pembelajaran tersebut antara lain dilakukan melalui praktikum menggunakan bahan yang mudah ditemukan di sekitar, seperti kol ungu dan bunga telang sebagai bahan indikator pH. Pendekatan ini diharapkan membuat konsep kimia hijau lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kegiatan pembelajaran.
Penguatan jejaring juga ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara UPER, PT Kawasan Industri Makassar (PT KIMA), dan Universitas Hasanuddin. Kerja sama tersebut diarahkan untuk membuka ruang lebih luas bagi riset, inovasi, dan pengembangan solusi kimia hijau yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Rektor UPER, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menilai pengalaman UPER dalam membangun jejaring GGINP Indonesia merupakan modal penting untuk memperluas kontribusi kampus terhadap sektor industri.
Ia mengatakan UPER memiliki posisi strategis karena berada dekat dengan ekosistem energi dan teknologi. Ke depan, kampus akan mendorong semakin banyak riset bersama industri, pengujian inovasi, serta keterlibatan mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan nyata di lapangan.
Dengan pendekatan tersebut, UPER berharap hasil riset dan inovasi dari lingkungan akademik tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat dikembangkan menjadi solusi yang memberikan manfaat dan nilai tambah bagi industri sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.
Sumber: Universitas Pertamina (UPER), GGINP Indonesia, dan materi kegiatan Green Chemistry for Industrial Excellence (GCIE) 2026.
(Reporter : Christin)