KETIKA TAK ADA UNTUNGNYA

label

Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |
Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |

iklan

iklan

KETIKA TAK ADA UNTUNGNYA

Selasa


MisindoGlobalNews, 29 September 2026 - Ada orang yang sangat ramah kepada mereka yang punya uang, jabatan, koneksi, atau pengaruh. Senyumnya mudah muncul, perhatiannya berlipat, bahkan hal kecil pun terasa penting.

Tetapi ketika berhadapan dengan orang yang tidak punya apa-apa untuk diberikan, sikapnya berubah. Menyapa saja terasa berat. Mendengarkan pun enggan. Bahkan keberadaan orang itu seolah tidak dianggap.

Padahal, karakter seseorang justru lebih mudah terlihat ketika tidak ada keuntungan yang bisa diperoleh.

Kita tidak terlalu sulit bersikap baik kepada orang yang kita butuhkan. Ada kepentingan yang membuat kita menjaga hubungan, ada harapan yang membuat kita memberi perhatian.

Tetapi bagaimana jika tidak ada yang bisa diberikan sebagai balasan?

Bagaimana jika orang itu miskin, tidak punya jabatan, tidak punya koneksi, tidak bisa membuka jalan, bahkan tidak akan pernah mampu membalas kebaikan kita?

Di situlah ketulusan menemukan tempatnya.

Sebab kebaikan yang selalu menunggu balasan perlahan berubah menjadi transaksi. Kita memberi karena berharap menerima. Kita membantu karena ingin dihargai. Kita mendekat karena ada sesuatu yang bisa diperoleh.

Padahal tidak semua kebaikan harus menghasilkan keuntungan.

Ada kebaikan yang cukup dilakukan karena memang seseorang sedang membutuhkan pertolongan.

Mungkin tidak ada yang memotret. Tidak ada yang memuji. Nama kita tidak disebut. Bahkan orang yang kita bantu mungkin suatu hari lupa bahwa kita pernah hadir dalam hidupnya.

Tidak masalah.

Sebab nilai sebuah kebaikan tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar penghargaan yang kita terima.

Jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa orang ini berikan kepada saya?”

Sesekali bertanyalah, “Apa yang bisa saya berikan kepada orang ini?”

Karena pada akhirnya, kualitas diri kita bukan hanya terlihat dari cara kita memperlakukan orang yang kita perlukan, tetapi juga dari cara kita memperlakukan mereka yang sama sekali tidak kita perlukan.

Ketika tidak ada keuntungan yang menunggu, di situlah ketulusan benar-benar berbicara.

(rt / rgy)


Berita Terdahulu


Berita Populer