MisindoGlobalNews, 19 Juli 2026 - Tidak sedikit orang yang menunda impiannya karena merasa dirinya belum cukup umur. Sebaliknya, banyak pula yang menghentikan langkahnya karena merasa usianya sudah terlalu tua.
Padahal, yang sering menjadi penghalang bukanlah usia, melainkan cara kita memandang diri sendiri.
Sejarah memberikan banyak contoh yang menginspirasi. Mozart baru berusia 7 tahun ketika karya musiknya mulai dipublikasikan. Benjamin Franklin menjadi kolumnis surat kabar pada usia 16 tahun. William Pitt the Younger dipercaya menjadi Perdana Menteri Inggris pada usia 24 tahun. Di Indonesia, Gibran Rakabuming Raka dilantik sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia pada usia 37 tahun, menjadi wakil presiden termuda dalam sejarah bangsa ini.
Di sisi lain, usia lanjut pun bukan penghalang untuk terus berkarya. Golda Meir menjadi Perdana Menteri Israel pada usia 71 tahun. Donald Trump dilantik untuk masa jabatan keduanya sebagai Presiden Amerika Serikat pada usia 78 tahun. Benjamin Franklin, pada usia 81 tahun, masih dipercaya menjadi anggota panitia perancang Undang-Undang Dasar Amerika Serikat. Mahathir Mohamad kembali menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia pada usia 92 tahun, sementara George Bernard Shaw masih menghasilkan salah satu karya dramanya yang penting ketika berusia 94 tahun.
Mereka hidup pada zaman, negara, dan bidang yang berbeda. Namun mereka memiliki satu kesamaan: mereka tidak menjadikan usia sebagai alasan untuk berhenti belajar, berkarya, atau mengabdikan diri.
Demikian pula dalam kehidupan kita.
Sering kali kita berkata, "Nanti saja kalau sudah cukup umur." Atau sebaliknya, "Sudahlah, saya sudah terlalu tua." Tanpa disadari, kalimat-kalimat itu menjadi tembok yang membatasi potensi kita sendiri.
Padahal, kesempatan tidak mengenal usia. Selama kita masih memiliki kemauan untuk belajar, keberanian untuk melangkah, dan ketekunan untuk bertumbuh, selalu ada hal baik yang dapat kita lakukan.
Tidak ada kata terlalu muda untuk mulai berbuat baik. Tidak ada pula kata terlalu tua untuk belajar, berkarya, menolong sesama, memulai sesuatu yang baru, atau mewujudkan impian yang masih mungkin diraih.
Yang terpenting bukanlah berapa usia kita hari ini, tetapi apakah semangat untuk terus bertumbuh masih hidup di dalam diri kita.
Renungkanlah: Apakah selama ini saya menjadikan usia sebagai alasan untuk menunda atau menyerah? Ataukah saya memilih menggunakan setiap kesempatan yang masih Tuhan berikan untuk terus bertumbuh dan memberi manfaat bagi sesama?
Sebab bukan usia yang menentukan nilai hidup seseorang, melainkan bagaimana ia menggunakan waktu yang dipercayakan kepadanya. Selama masih ada hari ini, masih ada kesempatan untuk belajar, berkarya, mengasihi, dan meninggalkan jejak yang berarti bagi kehidupan orang lain.
(rt / rgy)