BUKAN HANYA HUTAN YANG TERBAKAR

label

Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |
Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |

iklan

iklan

BUKAN HANYA HUTAN YANG TERBAKAR

Selasa


MisindoGlobalNews, 9 Srptember 2026 - Api melahap pepohonan, semak belukar, dan lahan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan. Asap bergerak ke mana-mana, mengganggu pernapasan, mengurangi jarak pandang, dan membuat banyak orang harus berhadapan dengan udara yang tidak sehat.

Kita melihat kebakaran hutan sebagai sebuah bencana. Tetapi mungkin ada sesuatu yang lebih dalam yang perlu kita renungkan.

Bukan hanya hutan yang terbakar.

Ketika hutan terbakar, yang ikut terbakar adalah habitat tempat berbagai makhluk hidup bergantung. Yang hilang adalah sumber penghidupan, keseimbangan alam, dan waktu bertahun-tahun yang dibutuhkan lingkungan untuk kembali pulih.

Namun ada satu hal lain yang mungkin ikut terbakar tanpa kita sadari: kepedulian manusia.

Kita sering baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah dampaknya terasa. Udara bersih baru dihargai ketika asap memenuhi lingkungan. Hutan baru terasa penting ketika kerusakannya mulai mengganggu kehidupan. Lingkungan baru menjadi perhatian ketika kita sendiri merasakan akibatnya.

Padahal, kepedulian seharusnya tidak menunggu bencana.

Menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal-hal sederhana: tidak melakukan pembakaran sembarangan, tidak membuang sesuatu yang dapat memicu kebakaran, menjaga kebersihan, menggunakan sumber daya dengan bijaksana, serta mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan yang kita lakukan.

Sebab apa yang kita lakukan hari ini tidak selalu berhenti pada hari ini.

Ada kehidupan lain yang ikut menerima akibatnya.

Demikian pula dalam kehidupan manusia. Ada banyak hal yang dapat “terbakar” jika kita tidak berhati-hati: kepercayaan karena kebohongan, hubungan karena kemarahan, persaudaraan karena keserakahan, dan kepedulian karena terlalu sibuk memikirkan diri sendiri.

Kadang-kadang kita terlalu sibuk memadamkan api yang terlihat, sementara lupa bahwa ada api lain yang sedang menyala di dalam diri kita.

Karena itu, ketika melihat sesuatu yang rusak, jangan hanya bertanya, “Siapa yang salah?”

Sesekali tanyakan juga, “Apa yang bisa saya lakukan?”

Mungkin kita tidak mampu melakukan sesuatu yang besar. Namun kepedulian tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Menjaga lingkungan, mengingatkan orang lain, membantu mereka yang terdampak, atau sekadar tidak menambah kerusakan, semuanya memiliki arti.

Dan ketika kemampuan kita terbatas, kepedulian tetap dapat diwujudkan melalui doa dan harapan baik bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan.

Sebab bumi yang kita tempati hari ini bukan hanya milik generasi kita.

Ada anak-anak yang kelak membutuhkan udara yang bersih. Ada generasi berikutnya yang berhak melihat hutan tetap hijau. Ada kehidupan yang bergantung pada keputusan yang kita buat hari ini.

Karena itu, ketika api mulai padam nanti, jangan biarkan kepedulian kita ikut padam.

Api mungkin membakar hutan, tetapi jangan sampai ia membakar hati kita hingga kehilangan kepedulian terhadap sesama, kehidupan, dan lingkungan tempat kita tinggal.

(rt / rgy)



Berita Terdahulu


Berita Populer