MisindoGlobalNews, Bandung, 20 Agustus 2026 - Usianya sudah 72 tahun. Rambutnya memutih, langkahnya tak lagi secepat dulu. Namun setiap pagi, Pak Edi Abdul Hadi tetap membawa perlengkapan sederhana untuk memperbaiki sepatu dan berangkat mencari pelanggan di sudut-sudut Kota Bandung.
Bagi sebagian orang, usia 72 tahun mungkin merupakan saat untuk lebih banyak beristirahat di rumah. Tetapi bagi Pak Edi, selama tubuhnya masih kuat, ia memilih tetap bekerja.
Bukan karena ia tidak memiliki keluarga.
Di Garut, ada seorang istri bernama Kartini, enam orang anak dan delapan cucu yang menunggunya. Lima dari enam anaknya sudah menikah. Anak-anak dan menantunya menjalani kehidupan masing-masing. Ada yang bertani, berjualan kacamata, dan bekerja di pondok pesantren. Anak sulungnya mengajar di pondok pesantren.
Justru karena itulah Pak Edi memilih tetap bekerja.
“ *Saya tidak mau membebani anak dan menantu. Mereka juga punya beban hidup masing-masing,”* begitu prinsip yang dipegangnya.
Pak Edi berasal dari Kampung Cibiuk, Garut. Ia lahir pada 1954, meski tanggal dan bulan kelahirannya sudah tidak lagi diingatnya. Pendidikan formalnya hanya sampai kelas 3 SD.
Sejak sekitar tahun 1970-an, ia telah menekuni pekerjaan sebagai tukang reparasi sepatu. Keahlian itu diperolehnya dari orang tua, bukan melalui pendidikan formal.
Ia masih mengingat masa ketika ongkos bus kota dari Cicaheum menuju Kebon Kelapa hanya Rp10 (sepuluh rupiah). Dari masa itu hingga sekarang, pekerjaan memperbaiki sepatu menjadi bagian panjang dari kehidupannya.
Setiap hari, Pak Edi biasa mangkal di sekitar perempatan Jalan Banteng, Jalan Gajah dan Jalan Palasari. Dari pagi hingga siang ia menunggu pelanggan. Setelah itu, ia berkeliling ke kawasan Jalan Karapitan, Jalan Moh. Toha dan sekitarnya.
Penghasilannya tidak pernah pasti.
Kadang dalam sehari ia bisa mendapatkan Rp120 ribu, bahkan Rp140 ribu. Tetapi tidak jarang pula ia pulang tanpa membawa penghasilan. Jika sedang sepi, tiga sampai empat hari pun pernah dilaluinya tanpa mendapatkan uang dari pekerjaannya.
Untuk tempat tinggal, Pak Edi kini menyewa sebuah kamar kost sederhana berukuran sekitar 3 x 4 meter di kawasan Jalan Karapitan. Setiap bulan ia membayar Rp500 ribu.
Sebelumnya, ia tinggal bersama bibinya. Setelah sang bibi berpulang, Pak Edi menjalani hidup seorang diri di Bandung.
Untuk kebutuhan makan sehari-hari, ada saja pertolongan yang datang dari orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya.
Pengendara sepeda motor atau mobil yang melihatnya terkadang memberikan uang. Dalam sehari, bisa tiga atau empat kali ia mendapatkan pemberian seperti itu.
Ia menerimanya dengan penuh syukur.
Selama ini, kondisi kesehatannya juga relatif baik. Sesekali ia hanya mengalami sakit ringan seperti masuk angin, pilek, batuk atau sakit kepala.
Sekitar sebulan sekali, Pak Edi pulang ke Garut. Bukan sekadar untuk bertemu istri dan keluarganya, tetapi juga membawa sebagian hasil yang diperolehnya selama bekerja untuk diberikan kepada istrinya.
Anak-anaknya memang sudah dewasa. Lima di antaranya sudah berkeluarga dan memberinya delapan cucu. Namun Pak Edi memahami bahwa masing-masing anak memiliki kehidupan dan tanggung jawab sendiri.
Karena itu, selama tubuhnya masih memungkinkan, ia ingin tetap mencari nafkah dengan tenaganya sendiri.
Ia juga mengaku selama ini belum pernah menerima bantuan pemerintah, termasuk bantuan sosial.
Namun Pak Edi tidak menjadikan keadaan itu sebagai alasan untuk berhenti.
Pendidikan boleh hanya sampai kelas 3 SD. Penghasilan boleh tidak menentu. Tempat tinggal boleh sederhana. Usia boleh sudah 72 tahun.
Tetapi semangat untuk bekerja dan menjaga keluarganya tetap menyala.
Di tengah kesibukan Kota Bandung, sosok Pak Edi mungkin mudah terlewatkan. Ia bukan pejabat, bukan pengusaha, bukan pula orang terkenal. Ia hanya seorang lelaki tua dengan peralatan sederhana yang setiap hari berusaha memperbaiki sepatu orang lain demi menyambung hidup.
Namun dari kesederhanaannya, ada pelajaran tentang harga diri dan tanggung jawab.
Ia masih memiliki anak-anak. Ia masih memiliki keluarga. Tetapi ia memilih untuk tidak menjadikan mereka tempat bergantung selama dirinya masih mampu berusaha.
Harapannya pun tidak muluk-muluk.
*Ia hanya ingin terus diberi kesehatan dan rezeki yang cukup.*
Sebab bagi Pak Edi, selama tangan masih kuat bekerja dan kaki masih sanggup melangkah, usia bukan alasan untuk menyerah.
*Ia ingin tetap berdiri dengan tenaganya sendiri—bukan karena tak punya keluarga, tetapi karena tak ingin menjadi beban bagi mereka.*
(rt / rgy)