MKDN 2026 mengusung subtema “Kolektif, Sinergi, dan Bertumbuh untuk Kebangkitan Indonesia.” Momentum ini mengajak umat Tuhan untuk merendahkan diri, berdoa, mencari wajah Tuhan serta berbalik dari jalan-jalan yang jahat, sebagaimana pesan yang tertuang dalam 2 Tawarikh 7:14.
Kegiatan ini diinisiasi oleh sejumlah aras gereja nasional, di antaranya Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII), Persekutuan Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Indonesia (PGBI), Gereja Ortodoks Indonesia (GOI), Bala Keselamatan serta Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.
Selain itu, MKDN melibatkan Jaringan Doa Nasional (JDN), Full Gospel Business Men's Fellowship International (FGBMFI), serta berbagai gereja, lembaga pelayanan, jaringan doa dan komunitas Kristen di berbagai wilayah Indonesia.
Sekretaris Umum PGI, Darwin Darmawan, menekankan pentingnya doa sebagai sarana umat untuk memahami kehendak Tuhan bagi bangsa Indonesia.
“Kita memerlukan doa. Melalui doa, kita akan memahami apa yang Tuhan inginkan bagi Indonesia,” ujar Darwin.
Sementara itu, Toni Mulya menegaskan bahwa MKDN bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan momentum bagi gereja untuk mengambil posisi dan berdiri bersama bagi Indonesia.
Semangat persatuan tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan MKDN secara serentak di 620 titik yang tersebar di 38 provinsi. Keserentakan itu menjadi gambaran kebersamaan umat Kristen dari berbagai daerah dalam membawa bangsa Indonesia ke dalam doa.
Fasilitator Umum JDN, Aristakus Tarigan, menjelaskan bahwa pelaksanaan secara serentak merupakan wujud nyata kesatuan Tubuh Kristus dalam mendoakan Indonesia.
Acara nasional di Balai Sarbini berlangsung pada Senin, 17 Agustus 2026, dengan puncak kegiatan digelar pukul 17.30–21.00 WIB. Kegiatan tersebut melibatkan para pemimpin gereja, hamba Tuhan serta pelayan pujian dari berbagai latar belakang gereja.
Sejumlah pelayan pujian yang turut mengambil bagian antara lain Ps. Sidney Mohede bersama JPCC Worship, Eldhy Victor, IFGF Praise, GKII Worship Team, Paduan Suara Bala Keselamatan, Gekari Damai Sejahtera Worship Team dan JDN Worship Team.
Ps. Edy Leo dalam kesempatan tersebut mengajak umat Tuhan menjadikan MKDN sebagai momentum untuk bersyukur, bertobat, berdoa, bersatu sebagai Tubuh Kristus dan mendeklarasikan iman atas Indonesia.
Semangat doa bagi bangsa juga diwujudkan melalui gerakan “Indonesia Menyembah 5”, yang mendorong gereja-gereja di berbagai kota untuk membangun mezbah doa dan penyembahan bagi bangsa.
Landasan utama momentum doa tersebut tercermin dalam 2 Tawarikh 7:14:
“Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bagi umat agar doa tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi diwujudkan melalui kerendahan hati, pertobatan dan kehidupan yang terus mencari kehendak Tuhan.
“Mari kita tangkap momentumnya, bangkitkan para pendoa, satukan Gereja, dan berdiri bagi Indonesia,” tegas Aristakus Tarigan, panitia MKDN 2026.
Pada puncak kegiatan, para pimpinan dan tokoh gereja mendeklarasikan pentingnya kesatuan Tubuh Kristus. Deklarasi tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa gereja dari berbagai latar belakang memiliki panggilan bersama untuk mendoakan dan mengambil bagian dalam membangun bangsa Indonesia.
Dengan pelaksanaan di 620 titik yang tersebar di 38 provinsi, MKDN 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah momentum peringatan HUT Kemerdekaan RI, tetapi menjadi penggerak bagi lahirnya kehidupan doa yang terus bertumbuh di berbagai daerah.
Sumber: Panitia Momentum Kesatuan Doa Nasional (MKDN) 2026, keterangan kegiatan dan pernyataan narasumber, Jakarta, 17 Agustus 2026.