MisindoGlonalNews, Jakarta, 22 Seotember 2026 - Kepemimpinan yang berlandaskan karakter, keberanian, moral, dan semangat pengabdian menjadi salah satu pokok pembahasan dalam dialog dan refleksi memperingati Hari Perdamaian Dunia yang digelar di Jakarta.
Kegiatan bertajuk “Kitab Ma Ha Is Maya: Pandangan dan Pesan Hari Perdamaian Dunia” itu diselenggarakan Persatuan Wartawan Nasrani (PEWARNA) Indonesia DKI Jakarta bersama Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI), Nusantara Centre, serta Semar Cipta Surya Kencana Amalindo di Gedung Juang Semar Suryakencana, Jalan H. Juanda Raya, Jakarta Pusat, Senin (21/9/2026).
Forum tersebut sekaligus menjadi momentum memperkenalkan kitab karya Eko Sriyanto Galgendu yang mengangkat gagasan “Kepemimpinan Bukan Kekuasaan, Tapi Pengabdian dan Pengorbanan.”
Ketua PEWARNA Indonesia DKI Jakarta Johan Sopaheluwakan memandu dialog yang menghadirkan sejumlah tokoh, yakni Direktur Nusantara Centre Yudhi Haryono, penulis dan pemerhati spiritualitas Jacob Ereste, Romo Narjo, serta Ketua Umum PEWARNA Indonesia Yusuf Mujiono.
Kegiatan diawali sambutan Anggota DPRD DKI Jakarta August Hamonangan. Ia mengapresiasi terselenggaranya forum tersebut karena memberikan ruang bagi pembahasan mengenai kehidupan sosial dan kebangsaan dari perspektif yang lebih luas.
Menurut August, Jakarta merupakan ruang bagi berkembangnya berbagai aktivitas masyarakat, baik sosial maupun ekonomi. Karena itu, ia menilai pembahasan mengenai nilai kebangsaan dan kehidupan bersama tetap memiliki relevansi di tengah perkembangan kota.
Dalam dialog, Yudhi Haryono menyoroti tantangan kehidupan masyarakat yang dinilainya semakin individualistis dan materialistis.
Ia mengatakan perilaku yang berorientasi pada kepentingan pribadi dapat muncul di berbagai lingkungan, mulai dari organisasi keagamaan, birokrasi pemerintahan hingga dunia usaha.
Yudhi berharap kehadiran kitab tersebut dapat menjadi bahan refleksi untuk membangun kembali orientasi kepemimpinan yang berpijak pada nilai dan jati diri bangsa.
Sementara itu, Romo Narjo menekankan pentingnya pemahaman mengenai nilai ketuhanan yang bersifat universal. Ia juga mengingatkan pentingnya generasi muda memahami Pancasila sebagai bagian dari upaya membangun karakter dan ketangguhan bangsa.
Dari perspektif kepemimpinan personal, Yusuf Mujiono menilai seseorang perlu terlebih dahulu mampu memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain.
Ia menekankan bahwa kepemimpinan membutuhkan landasan etika dan moral. Kemampuan mengendalikan diri, menurutnya, merupakan bagian penting sebelum seseorang berbicara mengenai upaya melakukan perubahan yang lebih luas.
Empat Pilar Kepemimpinan
Eko Sriyanto Galgendu dalam pemaparannya menyampaikan empat nilai yang menurutnya menjadi fondasi kepemimpinan sejati.
Pertama, karakter dan keberanian. Kepemimpinan, kata Eko, tidak seharusnya berorientasi pada jabatan atau kemewahan, tetapi lahir dari nilai luhur serta keberanian untuk memperjuangkan kebenaran.
Kedua, kehormatan tanah air. Ia mengingatkan bahwa bumi, air, dan kekayaan Nusantara bukan sekadar sumber daya yang dapat diperlakukan sebagai komoditas, tetapi juga bagian dari harga diri bangsa dan warisan bagi generasi berikutnya.
Ketiga, empati sejati. Menurut Eko, pemimpin perlu memiliki kemampuan merasakan kondisi masyarakat. Kepemimpinan tidak cukup diwujudkan melalui pidato, tetapi harus terlihat dari kepedulian terhadap penderitaan rakyat.
Keempat, semangat progresif. Ia mendorong adanya upaya mengejar ketertinggalan melalui kerja nyata, kejujuran, dan kebersamaan. Kemajuan, menurutnya, perlu diarahkan agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas.
Eko juga menilai pemimpin politik tidak dapat berjalan sendirian. Kehadiran pendamping yang memiliki pijakan spiritual dan nilai moral dinilai penting agar kekuasaan tidak menghilangkan kepekaan seorang pemimpin terhadap masyarakat.
Menurut dia, kepemimpinan pada hakikatnya bukan sekadar persoalan mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan, melainkan kesediaan untuk menjalankan pengabdian dan pengorbanan.
Kitab “Ma Ha Is Maya” yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut selanjutnya direncanakan untuk dibedah secara terbuka. Forum lanjutan itu disebut akan menghadirkan Presiden Prabowo Subianto.
Sumber: Kilometer.co.id, “Pemimpin Dibutuhkan Karakter dan Keberanian”, 22 September 2026.