JANGAN HANYA HIDUP LAMA, HIDUPLAH MENJADI BERKAT!

label

Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |
Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |

iklan

iklan

JANGAN HANYA HIDUP LAMA, HIDUPLAH MENJADI BERKAT!

Rabu


MisindoGlobapNews, 28 Oktober 2026 - Kita sering mengukur keberhasilan hidup dari berapa lama seseorang bertahan di dunia. Usia 70 tahun dianggap panjang, 90 tahun luar biasa, dan 117 tahun terasa hampir mustahil. Namun, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar berapa lama kita hidup, melainkan apa yang kita lakukan dengan kehidupan yang kita miliki.

Maria Branyas Morera, perempuan kelahiran San Francisco, Amerika Serikat, pada 4 Maret 1907, kemudian menetap di Spanyol dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di sana. Ia meninggal pada 19 Agustus 2024 dalam usia 117 tahun dan dikenal sebagai salah satu manusia tertua yang pernah tercatat. Sebelum meninggal, ia secara sukarela memberikan sampel biologisnya untuk diteliti para ilmuwan agar kondisi tubuhnya dapat membantu penelitian tentang proses penuaan.

Kisahnya mengingatkan kita bahwa kehidupan manusia menyimpan banyak hal yang masih perlu dipelajari. Kita dapat berusaha menjaga kesehatan melalui pola hidup yang baik, tetapi tidak sepenuhnya mampu mengendalikan panjang usia ataupun menghindari semua penyakit.

Sayangnya, banyak orang begitu sibuk merawat tubuh, tetapi lupa merawat hati. Kita memperhatikan makanan yang masuk ke dalam tubuh, tetapi membiarkan kebencian menetap dalam pikiran. Kita berusaha menjaga kebugaran fisik, tetapi mengabaikan hubungan yang rusak, perkataan yang melukai, dan sesama yang membutuhkan perhatian.

Padahal, hidup yang berkualitas bukan hanya tentang tubuh yang sehat atau usia yang panjang. Kehidupan yang bermakna juga tercermin dalam hati yang penuh kasih, pikiran yang bijaksana, sikap yang peduli, dan tindakan yang membawa manfaat bagi orang lain.

Setiap hari adalah kesempatan yang berharga. Waktu yang berlalu tidak dapat dibeli kembali. Kesempatan untuk mengasihi, memaafkan, menolong, memperbaiki diri, dan membangun hubungan yang lebih baik tidak selalu datang dua kali.

Kita tidak pernah tahu berapa lama waktu yang masih kita miliki. Namun, kita dapat menentukan bagaimana menggunakan waktu yang ada. Kita bisa memilih untuk menyebarkan kebahagiaan daripada kebencian, memberikan pertolongan daripada bersikap acuh tak acuh, serta meninggalkan kenangan baik daripada luka di hati orang lain.

Karena itu, jangan hanya berusaha memperpanjang usia, tetapi isilah setiap hari dengan kasih dan kebaikan. Jangan sampai kita hidup begitu lama, tetapi sedikit peduli; memiliki banyak waktu, tetapi jarang menolong; atau meninggalkan dunia tanpa pernah sungguh-sungguh memberikan manfaat bagi sesama.

Sebab, ukuran kehidupan yang bermakna bukan hanya berapa lama kita hidup, melainkan berapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan dan berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena kehadiran kita.
(rt / rgy)


Berita Terdahulu


Berita Populer