*Kita Terlalu Terbiasa*

label

Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |
Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |

iklan

iklan

*Kita Terlalu Terbiasa*

Senin

 MisindoGlobalNews, 20 Juli 2026 - Mengapa kita baru menghargai terang ketika listrik padam? Mengapa kesehatan baru terasa berharga saat tubuh mulai sakit? Mengapa kebersamaan baru dirindukan ketika seseorang telah pergi?

Jawabannya sederhana: *karena kita terlalu terbiasa.* 

Apa yang hadir setiap hari sering kali kita anggap sebagai sesuatu yang pasti. Kita menghirup udara tanpa memikirkannya. Kita menikmati kesehatan tanpa menyadari betapa berharganya. Kita bertemu keluarga, sahabat, dan rekan kerja seolah mereka akan selalu ada. Bahkan hal-hal kecil seperti senyuman, sapaan, dan waktu bersama sering luput dari perhatian karena telah menjadi bagian dari rutinitas.

Ironisnya, manusia lebih sering memusatkan perhatian pada apa yang belum dimiliki daripada mensyukuri apa yang sudah ada. Kita mengejar sesuatu yang jauh, sementara mengabaikan anugerah yang begitu dekat. Padahal, banyak hal yang hari ini terasa biasa justru akan menjadi sangat berharga ketika suatu saat tidak lagi kita miliki.

Kehidupan mengajarkan bahwa tidak ada yang benar-benar tetap. Waktu terus berjalan. Keadaan berubah. Orang-orang datang dan pergi. Kesehatan dapat menurun, kesempatan bisa berlalu, dan kebersamaan tidak selalu dapat diulang. Karena itu, jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai.

Belajarlah menikmati secangkir kopi bersama sahabat sebelum hanya tinggal kenangan. Luangkan waktu bersama keluarga sebelum kesibukan atau jarak memisahkan. Syukuri tubuh yang masih mampu bekerja, mata yang masih dapat melihat, telinga yang masih dapat mendengar, dan hati yang masih mampu merasakan kasih sayang. Kebahagiaan sering kali bukan lahir dari memiliki lebih banyak, melainkan dari kemampuan menghargai apa yang telah ada.

Pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang mengejar apa yang belum kita miliki, tetapi juga tentang merawat dan menghargai apa yang telah kita terima.

 *Jangan biarkan kehilangan mengajarkan nilai sebuah anugerah. Hargailah selagi masih ada, karena yang hari ini terasa biasa, esok bisa menjadi sesuatu yang paling kita rindukan.* 

(rt / rgy)


Berita Terdahulu


Berita Populer