*14 Februari: Antara Valentine dan Makna Kasih yang Sejati*

label

Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |
Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |

iklan

iklan

*14 Februari: Antara Valentine dan Makna Kasih yang Sejati*

Jumat

Misindo Global News, Bandung 14 Februari 2026 — Setiap 14 Februari, dunia dipenuhi simbol hati berwarna pink, cokelat, bunga, dan ucapan “selamat hari kasih sayang”. Banyak orang merayakan Valentine dengan memberi hadiah kepada orang yang mereka kasihi. Industri ritel bergerak, media sosial ramai, dan suasana terasa lebih manis dari biasanya.

Namun di tengah perayaan itu, muncul pertanyaan mendasar: apa sebenarnya makna kasih menurut Kitab Suci?

Alkitab tidak menolak kasih. Justru kasih adalah inti iman. Tetapi kasih yang diajarkan Kitab Suci bukan sekadar perasaan romantis atau perhatian sesaat. Kasih yang sejati bersifat memberi dan berkorban.

Yohanes 3:16 menegaskan:
"Karena begitu besar kasih Elohim akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal..."

Kasih Elohim tidak berhenti pada kata-kata. Ia dinyatakan melalui tindakan nyata — pemberian yang paling mahal. Inilah standar kasih yang sempurna: kasih yang rela memberi diri demi keselamatan orang lain.

Menariknya, tanggal 14 dalam kalender Kitab Suci juga memiliki makna historis. Dalam Bilangan 9:11, disebutkan bahwa pada bulan kedua, hari keempat belas, umat Israel merayakan Paskah bagi mereka yang sebelumnya belum sempat merayakannya. Perayaan itu dilakukan dengan roti tidak beragi dan sayur pahit — simbol kemurnian dan pengingat penderitaan perbudakan di Mesir.

Paskah bukan perayaan romantis. Ia adalah perayaan pembebasan. Ada unsur pahit di dalamnya. Ada pengorbanan. Ada darah anak domba yang menjadi tanda keselamatan.

Di sinilah perbedaannya terlihat jelas. Jika Valentine identik dengan rasa manis dan simbol hati, Paskah mengingatkan bahwa kasih sejati juga mengenal pengorbanan dan kesetiaan dalam penderitaan.

Kasih menurut Kitab Suci bukan kasih musiman. Bukan kasih yang dirayakan setahun sekali. Bukan pula kasih yang diukur dari hadiah yang diberikan. Kasih sejati adalah kasih yang setia, rela mengampuni, dan siap berkorban.

Bagi orang percaya, 14 Februari bisa menjadi momen refleksi. Bukan sekadar mengikuti arus budaya populer, tetapi meninjau kembali kualitas kasih dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kasih kita hanya simbolik? Ataukah nyata dalam tindakan, pengampunan, dan kepedulian?

Di tengah dunia yang merayakan cinta dengan cokelat dan bunga, Kitab Suci mengingatkan bahwa kasih terbesar telah lebih dahulu dinyatakan. Dan kasih itu tidak lekang oleh waktu.

Karena pada akhirnya, kasih yang sejati bukan hanya dirayakan.
Kasih yang sejati dijalani.

(robby tingaray)


Berita Terdahulu


Berita Populer