CATUR GAJAH (XIANGQI): WARISAN BUDAYA TIONGKOK YANG MENDUNIA

label

Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |
Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |

iklan

iklan

CATUR GAJAH (XIANGQI): WARISAN BUDAYA TIONGKOK YANG MENDUNIA

Sabtu

MISINDO GLOBAL NEWS, 10 Januari 2026 — Catur Gajah atau Xiangqi, permainan papan klasik asal Tiongkok, terus menunjukkan eksistensinya sebagai warisan budaya dunia yang sarat nilai sejarah, strategi, dan pembentukan karakter. Permainan ini tidak hanya bertahan lintas zaman, tetapi juga diajarkan secara aktif melalui kegiatan edukatif di berbagai komunitas.

Xiangqi telah dikenal sejak era Dinasti Zhou (1056–256 SM) dan berkembang pesat pada masa Dinasti Han (206 SM–220 M). Puncak popularitasnya terjadi pada era Dinasti Tang (618–907 M), ketika Xiangqi menjadi permainan nasional yang dimainkan oleh berbagai lapisan masyarakat. Aturan dan standar papan permainan kemudian dibakukan pada masa Dinasti Ming (1368–1644 M) dan digunakan hingga saat ini.

Memasuki abad ke-20, Xiangqi bertransformasi menjadi cabang olahraga kompetitif dengan berdirinya Federasi Xiangqi Tiongkok (CXF) pada tahun 1962. Pada era digital abad ke-21, Xiangqi hadir dalam format daring dan menjadi ajang kejuaraan internasional. Pada tahun 2020, UNESCO secara resmi menetapkan Xiangqi sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.

Sebagai bagian dari upaya pelestarian dan edukasi, pelatihan Xiangqi diselenggarakan pada 10 Januari 2026 bertempat di Yayasan Dana Sosial Priangan (YDSP), Jalan Nana Rohana No. 37, Bandung, tepatnya di Gedung Karuhun, pukul 09.00–12.30 WIB.

Salah satu pengajar berpengalaman dalam kegiatan ini adalah bapak Joachim Huang, yang membagikan pemahaman dasar hingga filosofi Xiangqi kepada wartawan dan para peserta. Anak-anak yang tadinya ga percaya diri setelah ikut pelatihan catur Xiangqi mulai menunjukkan perubahan yang signifikan, paparnya.

Nilai Filosofis dan Pembentukan Karakter
Lebih dari sekadar permainan, Xiangqi mencerminkan konsep manusia sebagai homo ludens—makhluk yang belajar dan berkembang melalui permainan. Xiangqi melatih kemampuan berpikir strategis, perencanaan, pengambilan keputusan, serta evaluasi diri. Di sisi lain, permainan ini juga membentuk karakter jujur, sabar, tekun, bertanggung jawab, kreatif, tangguh, dan rendah hati.
Secara sosial, Xiangqi mendorong kerja sama, sportivitas, solidaritas, serta saling menghargai kemampuan sesama.

Nilai-nilai tersebut dirangkum dalam filosofi berikut:

CATUR
C = Cerdas cendekia. ·
A = Arif bijaksana. ·
T = Tangguh kuat. ·
U = Unggul prestasi. ·
R = Rendah hati.

GAJAH
G = Gerakan kebersamaan. ·
A = Apresiasi kebajikan. ·
J = Jejaring kerja sama. ·
A = Aplikatif dalam kehidupan. ·
H = Harmoni dan kedamaian.

Melalui pelatihan dan edukasi berkelanjutan, Xiangqi diharapkan tidak hanya menjadi permainan tradisional, tetapi juga sarana pembelajaran karakter, budaya, dan nilai kemanusiaan di tengah masyarakat modern. (Bung Johan). 


Berita Terdahulu


Berita Populer