*Guru Dipolisikan, Orang Tua Dimanja, Anak Kehilangan Arah*

label

Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |
Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |

iklan

iklan

*Guru Dipolisikan, Orang Tua Dimanja, Anak Kehilangan Arah*

Rabu

Misindo Global News, Bandung, 05 Februari 2026 - Ada yang sedang sakit dalam dunia pendidikan kita. Bukan hanya kurikulum atau fasilitas, melainkan cara berpikir. Ketika guru dipolisikan karena mendisiplinkan siswa, yang sesungguhnya sedang runtuh bukan sekadar wibawa guru, tetapi nalar publik.

Fenomena ini sering terjadi bukan karena kekerasan nyata, melainkan karena ketegasan disalahartikan sebagai penganiayaan. Lebih ironis lagi, tak sedikit kasus menimpa guru perempuan—sosok yang secara kodrati justru dikenal mengedepankan kesabaran, empati, dan pendekatan keibuan dalam mendidik.

Rasanya sulit diterima akal sehat jika seorang guru perempuan dengan sadar berniat mencederai atau menyakiti siswanya. Yang terjadi hampir selalu adalah upaya mendisiplinkan: menegur, menahan emosi, atau mengambil tindakan edukatif agar anak belajar bertanggung jawab. Namun di era ketika perasaan sering mengalahkan akal, ketegasan langsung dicap sebagai kekerasan.

Akar persoalan ini tetap sama: banyak siswa datang ke sekolah tanpa bekal etika, sopan santun, dan nilai moral dari rumah. Anak melawan, tidak hormat, melanggar aturan—lalu ketika ditegur, orang tua bereaksi bukan dengan introspeksi, melainkan dengan amarah dan laporan polisi.

Guru bukan algojo. Guru mendidik dengan niat baik. Disiplin bukan kekerasan. Tegas bukan kejam. Tetapi sebagian orang tua hari ini tampak lebih sibuk melindungi ego anak daripada membentuk karakternya.

Lebih berbahaya lagi, orang tua lupa bahwa selama di sekolah, guru adalah orang tua kedua. Ketika orang tua justru menyerang guru—terlebih guru perempuan—pesan yang ditanamkan kepada anak sangat keliru: bahwa figur pendidik boleh dipermalukan, bahwa kesalahan pribadi bisa ditutupi dengan tekanan hukum.

Inilah ironi besar pendidikan kita. Anak yang bersalah dibela mati-matian. Guru yang mendidik—bahkan dengan pendekatan keibuan—justru diperlakukan sebagai pelaku kriminal. Sekolah berubah menjadi ruang penuh ketakutan, tempat guru lebih sibuk menjaga diri daripada mendidik.

Jika memang terjadi kekerasan nyata dan disengaja, tentu harus diproses hukum. Guru bukan manusia suci yang kebal hukum. Tetapi membawa persoalan disiplin ke ranah pidana tanpa dialog adalah bentuk kegagalan moral orang tua. Seharusnya orang tua datang ke sekolah, bertanya, mendengar, dan mengklarifikasi—bukan langsung memperkarakan.

Jika seorang guru, apalagi guru perempuan, sedang mendisiplinkan anak demi kebaikannya, orang tua seharusnya berterima kasih. Lalu pulang dan melakukan tugas utamanya: membina anak di rumah. Anak yang ditegur karena salah akan belajar tanggung jawab. Anak yang selalu dibela akan belajar mencari perlindungan, bukan kebenaran.

Jika tren kriminalisasi guru ini terus dibiarkan, kita sedang menyiapkan generasi yang rapuh: tidak tahan ditegur, alergi disiplin, dan miskin karakter. Dan ketika itu terjadi, jangan salahkan guru. Berkacalah ke rumah masing-masing.

Saatnya jujur diakui: dalam banyak kasus guru dipolisikan karena mendisiplinkan siswa, yang paling perlu dibenahi bukan guru—melainkan orang tua dan cara pandangnya terhadap pendidikan.

Penulis : Robby G. Yahya, (mantan Guru dpk STM Korpri Majalengka dan STM Permentasi Bandung serta Dosen dpk Universitas Langlangbuana Bandung)


Berita Terdahulu


Berita Populer