Daniel Yusmic : Pemimpin Harus Berintegritas dan Mampu Mempertanggungjawabkan Keputusan

label

Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |
Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |

iklan

iklan

Daniel Yusmic : Pemimpin Harus Berintegritas dan Mampu Mempertanggungjawabkan Keputusan

Senin

MisindoGlobalNews, Jakarta, 11 Agustus 2026 - Kepemimpinan tidak cukup hanya ditopang oleh kompetensi. Integritas, tanggung jawab, etika dalam menggunakan kewenangan, serta keberpihakan terhadap kepentingan publik menjadi unsur penting yang harus melekat pada seorang pemimpin.

Hal tersebut disampaikan Dr. Daniel Yusmic Pancastaki Foekh, S.H., M.H., dalam kegiatan pembinaan karakter dan kepemimpinan yang berlangsung pada Senin (10/8/2026).


Dalam pemaparannya, Daniel mengaitkan kepemimpinan dengan nilai-nilai Kristiani sekaligus realitas kehidupan sosial, politik, hukum dan pelayanan kepada masyarakat.

Menurut Daniel, seseorang yang dipercaya memegang tanggung jawab kepemimpinan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan di bidangnya. Lebih dari itu, ia harus mampu menunjukkan konsistensi antara perkataan dan tindakan serta bersedia mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil.

Integritas, lanjutnya, justru dapat terlihat ketika seseorang menjalankan tugas dalam situasi tanpa pengawasan langsung. Pada kondisi seperti itu, nilai dan karakter pribadi menjadi dasar bagi seseorang dalam menentukan sikap.

Etika Menjaga Informasi Jabatan

Daniel juga membahas persoalan etika dalam menjaga informasi yang diperoleh seseorang karena kedudukannya. Menurut dia, tidak semua informasi yang diketahui karena jabatan dapat disampaikan kepada publik secara bebas.

Ada informasi tertentu yang memiliki kewajiban untuk dijaga sesuai ketentuan, sumpah jabatan maupun tanggung jawab yang melekat pada posisi seseorang.

Untuk menjelaskan hal tersebut, Daniel mengangkat ilustrasi mengenai seorang pejabat negara pada masa lalu yang memilih untuk tidak membuka informasi tertentu berkaitan dengan sebuah peristiwa politik. Sikap tersebut diambil karena adanya pertimbangan terhadap sumpah dan tanggung jawab jabatan.

Ilustrasi itu, menurut Daniel, menunjukkan pentingnya memahami batas antara kepentingan pribadi, kepentingan kelompok dan kepentingan publik ketika seseorang berada dalam posisi yang memiliki kewenangan.

Kepemimpinan Tidak Terbentuk Seketika

Dalam kesempatan tersebut, Daniel juga menekankan bahwa kepemimpinan merupakan hasil dari sebuah proses yang panjang.

Pendidikan, pengalaman profesional, pekerjaan, lingkungan sosial maupun pengalaman pelayanan dapat ikut membentuk karakter dan cara seseorang menjalankan tanggung jawab.

Daniel kemudian membagikan sebagian pengalaman perjalanan pendidikan dan profesionalnya, termasuk aktivitas akademik, konsultasi hukum serta interaksi dengan berbagai lapisan masyarakat.

Ia menilai pelayanan kepada masyarakat tidak terbatas pada satu bidang tertentu. Bantuan hukum maupun kegiatan sosial merupakan bentuk kontribusi yang dapat dilakukan sesuai dengan kompetensi dan kesempatan yang dimiliki.

Ketika seseorang memperoleh kepercayaan untuk melayani masyarakat, kepercayaan tersebut harus dijalankan secara sungguh-sungguh dan bertanggung jawab.

Antara Kepentingan Politik dan Prinsip

Persoalan kepemimpinan juga tidak terlepas dari dunia politik. Dalam konteks tersebut, Daniel menyoroti kemungkinan munculnya berbagai kepentingan yang harus dihadapi oleh seorang pemimpin ketika mengambil keputusan.

Menurutnya, seorang pemimpin perlu memahami mana persoalan yang masih dapat dibicarakan dan dikompromikan dalam proses politik serta mana prinsip yang harus tetap dipertahankan berdasarkan keyakinan dan nilai yang dianut.

Dalam konteks hukum, ia juga menekankan pentingnya argumentasi yang kuat dalam setiap proses pengambilan keputusan.

Seorang hakim, misalnya, memiliki tanggung jawab untuk mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan hukum dengan memperhatikan asas, teori, doktrin serta sumber-sumber hukum yang relevan.

Keputusan hukum, lanjut Daniel, juga dapat menjadi bagian dari perkembangan hukum. Karena itu, suatu putusan tetap dapat dikaji dalam perkembangan berikutnya ketika terdapat perubahan konteks hukum maupun dinamika masyarakat.

Pemimpin Perlu Mendengar

Hal lain yang ditekankan Daniel adalah pentingnya kemampuan seorang pemimpin untuk mendengar sebelum menentukan kebijakan.

Menurut dia, keputusan yang menyangkut masyarakat perlu mempertimbangkan berbagai informasi, kondisi dan kepentingan pihak-pihak yang akan terdampak.

Keberpihakan terhadap kepentingan publik, kata Daniel, antara lain dapat diwujudkan melalui tata kelola pemerintahan yang baik, penegakan keadilan dan pembangunan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Prinsip serupa juga dapat diterapkan dalam dunia usaha. Aktivitas ekonomi tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga perlu membangun kepercayaan serta memperhatikan kepentingan masyarakat dan lingkungan.

Spiritual dan Kultural

Daniel turut menjelaskan dua dimensi yang berkaitan dengan pembentukan kepemimpinan, yakni dimensi spiritual dan kultural.

Dimensi spiritual berkaitan dengan pembentukan nilai moral, integritas serta tanggung jawab pribadi. Sementara dimensi kultural berhubungan dengan keberadaan seseorang di tengah kehidupan sosial, profesi, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Keduanya, menurut Daniel, dapat diwujudkan melalui profesionalisme dan kontribusi konkret dalam kehidupan bermasyarakat.

Menjadi Refleksi bagi Jurnalis

Materi yang disampaikan Daniel juga memiliki relevansi dengan profesi jurnalistik. Wartawan dalam menjalankan tugasnya berhadapan dengan informasi, narasumber, kepentingan publik serta beragam kepentingan lainnya.

Karena itu, integritas menjadi salah satu fondasi penting dalam menjalankan profesi jurnalistik. Wartawan dituntut menguji informasi, menyajikan pemberitaan secara berimbang, menghormati asas praduga tak bersalah serta membedakan fakta dari opini.

Pembahasan mengenai kepemimpinan, integritas dan tanggung jawab publik tersebut menjadi bagian dari refleksi bagi peserta, khususnya mereka yang memiliki peran dalam pelayanan maupun profesi yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta mendapat kesempatan menyampaikan pertanyaan sekaligus mendalami berbagai persoalan kepemimpinan, etika, hukum dan tanggung jawab publik yang disampaikan Daniel.

(Sumber: Materi/paparan Dr. Daniel Yusmic Pancastaki Foekh, S.H., M.H., dalam kegiatan pembinaan karakter dan kepemimpinan, Senin 10/8/2026).


Berita Terdahulu


Berita Populer