MisindoGlobalNews, Jakarta 10 Agustus 2026 - Kemampuan jurnalistik tidak cukup hanya diukur dari kecakapan menulis dan menyajikan informasi. Di tengah derasnya arus informasi digital, seorang jurnalis dituntut memiliki karakter kuat, integritas, serta kemampuan mengenali dan mengembangkan potensi dirinya.
Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Capacity Building PEWARNA Indonesia PD DKI Jakarta yang digelar di GSPDI Beleza, Permata Hijau, Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).
Seminar yang dimulai pukul 09.00 WIB itu menghadirkan Dr. Harmoni Ezra sebagai narasumber dengan materi seputar karakter dan integritas. Sementara jalannya kegiatan dipandu Antonius Natan sebagai host.
Kegiatan ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas anggota secara profesional, tetapi juga mendorong peserta memahami kekuatan dan potensi yang ada dalam dirinya.
Dalam pemaparannya, Harmoni Ezra mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki keunikan. Cara berpikir, merasakan, berbicara hingga bertindak dapat berbeda antara satu orang dengan lainnya. Perbedaan tersebut, menurutnya, justru dapat menjadi kekuatan apabila dikenali dan dikembangkan dengan tepat.
Talenta yang dimiliki seseorang juga tidak seharusnya berhenti sebagai kemampuan pribadi. Talenta perlu diarahkan agar dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan, organisasi maupun masyarakat.
Karena itu, peserta diajak tidak hanya menjadi orang yang mampu melihat persoalan, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menjadi problem solver. Kemampuan membaca situasi, menganalisis masalah, berkomunikasi, mengambil keputusan dan membangun kerja sama menjadi bagian penting dari kapasitas yang perlu terus dikembangkan.
Mengenali Potensi Diri
Salah satu bagian dalam seminar adalah pengenalan assessment untuk membantu peserta memahami karakter, talenta, kekuatan serta kecenderungan dirinya.
Peserta diperkenalkan dengan tools assessment melalui DYVN.me menggunakan voucher PEWARNA2026. Dalam assessment tersebut, karakter seseorang antara lain digambarkan melalui kecenderungan warna merah, kuning, hijau dan biru dengan tingkat dominasi yang berbeda.
Pemahaman terhadap karakter ini bukan untuk menentukan siapa yang lebih baik dibandingkan orang lain. Sebaliknya, peserta diarahkan memahami bagaimana setiap pribadi berpikir, berkomunikasi, mengambil keputusan dan bekerja.
Dalam kehidupan organisasi, perbedaan karakter yang tidak dipahami dapat menimbulkan konflik. Namun jika dikelola secara tepat, keberagaman karakter justru dapat menjadi kekuatan dalam membangun sebuah tim.
Tantangan Jurnalis di Tengah Era AI
Pembahasan mengenai karakter dan integritas menjadi semakin relevan ketika dunia jurnalistik menghadapi perubahan besar akibat perkembangan teknologi digital dan artificial intelligence (AI).
Banjir informasi, konten manipulatif, deepfake hingga berita yang dibuat secara sensasional menjadi tantangan tersendiri bagi insan pers.
Dalam situasi seperti itu, jurnalis dituntut semakin kritis dalam memeriksa informasi, memastikan sumber serta membedakan fakta dari konten yang sengaja dibuat untuk membentuk persepsi publik.
Perhatian publik memang memiliki nilai ekonomi di era digital. Namun mengejar perhatian tidak boleh membuat jurnalis mengabaikan kebenaran.
Di sinilah integritas menjadi pembeda. Jurnalis bukan hanya dituntut menghasilkan berita yang menarik, tetapi juga harus mampu mempertanggungjawabkan informasi yang disampaikan kepada masyarakat.
Seminar tersebut menekankan bahwa talenta tanpa karakter dapat kehilangan arah, sementara kompetensi tanpa integritas dapat kehilangan kepercayaan.
Membangun Karya yang Meninggalkan Jejak
Selain berbicara mengenai kemampuan dan karakter, peserta juga diajak melihat lebih jauh mengenai arti sebuah legacy atau warisan yang ditinggalkan seseorang.
Pertanyaan yang kemudian muncul bukan semata-mata mengenai apa yang telah diperoleh selama menjalani kehidupan, tetapi apa yang akan ditinggalkan bagi orang lain.
Dalam konteks PEWARNA Indonesia PD DKI Jakarta, semangat tersebut diarahkan pada upaya membangun insan pers yang tidak hanya memiliki kemampuan jurnalistik, tetapi juga mempunyai karakter, integritas dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan semakin mengenal potensi diri, mengembangkan talenta, meningkatkan kompetensi serta menjaga integritas dalam menjalankan profesinya.
Pada akhirnya, kemampuan dan talenta menjadi modal untuk berkarya. Namun karakter dan integritaslah yang menentukan ke mana kemampuan tersebut diarahkan.9
Bagi jurnalis, kemampuan tersebut idealnya bermuara pada karya jurnalistik yang tidak hanya informatif, tetapi juga mencerdaskan, membangun kepercayaan publik dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Red