MisindoGlobalNews, 25 Juli 2026 - Beberapa hari lalu, puluhan jurnalis dari berbagai organisasi menggelar aksi damai di depan markas kepolisian. Mereka menyampaikan aspirasi sebagai bentuk keberatan terhadap pernyataan seorang tokoh publik yang dianggap telah merendahkan profesi wartawan. Meskipun permintaan maaf telah disampaikan, mereka tetap berharap persoalan tersebut diselesaikan melalui mekanisme hukum yang berlaku sebagai bentuk penghormatan terhadap martabat profesi dan keadilan.
Peristiwa itu mengingatkan kita bahwa perkataan bukanlah sesuatu yang sepele. Kalimat yang diucapkan hanya dalam beberapa detik dapat melukai banyak hati dan menimbulkan dampak yang panjang. Sebaliknya, perkataan yang baik mampu membangun, menguatkan, dan memulihkan.
Di era ketika setiap orang dapat menyampaikan pendapat melalui media sosial maupun ruang publik, kebebasan berbicara harus selalu diiringi dengan tanggung jawab. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar, begitu pula kritik yang disampaikan demi kebaikan. Namun, semua itu tidak seharusnya diwujudkan dengan merendahkan martabat atau menghina orang lain.
Sebelum berbicara, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah ucapan ini akan membangun atau justru melukai? Apakah kata-kata ini akan membawa harapan atau menambah beban? Apakah yang saya sampaikan akan mempererat hubungan atau malah memperuncing perbedaan?
Perkataan yang baik tidak selalu harus panjang atau indah. Kadang-kadang, ucapan yang sederhana tetapi tulus mampu memberikan semangat baru bagi seseorang. Sebaliknya, satu kalimat yang diucapkan tanpa pertimbangan dapat meninggalkan luka yang sulit dilupakan.
Marilah kita membiasakan diri menggunakan lidah untuk membangun, bukan merendahkan; untuk menguatkan, bukan melemahkan; serta untuk menghadirkan damai, bukan pertikaian. Sebab, kualitas seseorang tidak hanya terlihat dari apa yang ia lakukan, tetapi juga dari apa yang ia ucapkan.
Refleksi:
Semoga kita senantiasa memiliki kebijaksanaan dalam memilih kata-kata. Biarlah setiap ucapan yang keluar dari mulut kita membawa kebaikan, menumbuhkan harapan, menghormati sesama, dan menjadi sumber kedamaian bagi siapa pun yang mendengarnya.
(rt / rgy)