MisindoGlobalNews, Jakarta, 28 Juli 2026 - Implementasi biodiesel B50 yang mulai diterapkan pada 2026 dinilai menjadi momentum penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Namun, keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada peningkatan penggunaan biodiesel, melainkan juga pada pengembangan sumber bahan baku alternatif, dukungan riset, dan kebijakan yang berkelanjutan.
Guru Besar Program Studi Teknik Mesin Universitas Pertamina, Prof. Dr. Eng. Ir. Iman Kartolaksono Reksowardojo, M.Eng., mengatakan program B50 merupakan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar sekaligus mendukung upaya penurunan emisi karbon.
Menurut proyeksi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2026, penerapan B50 yang merupakan campuran 50 persen biodiesel berbahan nabati dan 50 persen solar diperkirakan mampu menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun serta menekan emisi karbon sekitar 46,72 juta ton setiap tahun.
Meski demikian, Prof. Iman mengingatkan bahwa pelaksanaan program tersebut masih menghadapi tantangan, terutama terkait ketersediaan bahan baku yang selama ini masih didominasi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
"Penerapan B50 menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar. Namun, keberhasilannya bergantung pada dukungan teknologi, keberlanjutan pasokan bahan baku, serta kebijakan yang konsisten," ujarnya.
Ia menjelaskan, tingginya kebutuhan CPO untuk biodiesel berpotensi memengaruhi sektor lain, terutama pangan. Berdasarkan data Kementerian Pertanian tahun 2026, konsumsi CPO untuk produksi biodiesel pada 2025 mencapai 12,7 juta ton, sementara kebutuhan minyak pangan tercatat sekitar 9,83 juta ton.
Untuk itu, Prof. Iman menilai Indonesia perlu mempercepat diversifikasi bahan baku bioenergi agar ketahanan energi dapat berjalan seiring dengan ketahanan pangan.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar karena berada di wilayah khatulistiwa dengan beragam tanaman yang dapat dikembangkan sebagai sumber energi nabati, seperti jarak pagar, nyamplung, kelapa, singkong, dan tebu. Selain itu, pengembangan bioetanol, bioavtur, serta green diesel juga perlu terus didorong melalui riset dan inovasi.
"Diversifikasi sumber bahan baku menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan antara ketahanan energi, ketahanan pangan, dan keberlanjutan industri," katanya.
Di sisi lain, ia menilai kebijakan pemerintah juga memiliki peran penting dalam mendukung implementasi B50. Salah satunya melalui penyempurnaan mekanisme Domestic Market Obligation (DMO), sehingga kebutuhan bahan baku di dalam negeri tetap terpenuhi tanpa mengurangi daya saing industri sawit di pasar internasional.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan biodiesel, Universitas Pertamina saat ini menjalin kolaborasi penelitian bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), Institut Teknologi Bandung (ITB), serta Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Penelitian tersebut difokuskan pada pengujian dampak penggunaan biodiesel terhadap kendaraan heavy duty, seperti truk dan kendaraan angkutan berat, guna memastikan performa serta keandalannya dalam penggunaan jangka panjang.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Pjs.) Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., menegaskan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung transformasi energi nasional melalui riset, inovasi teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia.
Menurutnya, Universitas Pertamina terus memperkuat ekosistem riset melalui Center of Excellence (CoE) dengan mendorong kolaborasi multidisiplin untuk menghasilkan solusi berbasis sains yang mampu mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Repoerter : Christin
Editor : rt / rgy