*Lidah Menikmati, Tubuh Menangisi*

label

Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |
Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |

iklan

iklan

*Lidah Menikmati, Tubuh Menangisi*

Selasa


Seorang teman bercerita tentang kunjungannya kepada seorang bapak berusia 72 tahun yang sedang menghadapi pergumulan berat akibat diabetes. Dua jarinya telah diamputasi. Beberapa hari kemudian, satu kakinya harus dipotong sampai pergelangan karena infeksi yang semakin parah.

Namun penderitaannya bukan hanya soal kesehatan. Istrinya telah lebih dahulu berpulang. Anak satu-satunya telah mendahuluinya beberapa tahun sebelumnya. Kehilangan demi kehilangan membuat semangat hidupnya runtuh. Ia merasa tidak ada lagi alasan untuk melanjutkan perjalanan hidupnya.

Kisah itu mengingatkan saya pada satu hal: banyak orang ingin menikmati hidup, tetapi sedikit yang memikirkan akibat dari kebiasaan yang dilakukan setiap hari.

Apa yang terasa nikmat hari ini belum tentu membawa kebaikan di masa depan. Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman secara berlebihan, kurang berolahraga, serta mengabaikan kesehatan sering kali tampak sepele. Namun dampaknya bisa sangat besar ketika usia bertambah.

Lidah hanya menikmati beberapa menit, tetapi tubuh dapat menanggung akibatnya selama bertahun-tahun.

Banyak penyakit serius tidak datang secara tiba-tiba. Mereka tumbuh perlahan melalui kebiasaan yang terus diulang dari hari ke hari. Karena itu, menjaga kesehatan bukanlah soal membatasi kebahagiaan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan orang-orang yang kita kasihi.

Namun ada pelajaran lain yang tak kalah penting. Ketika kesehatan mulai menurun dan hidup terasa berat, jangan biarkan harapan ikut hilang. Tubuh mungkin melemah, keadaan mungkin berubah, tetapi semangat untuk menjalani hidup harus tetap dipelihara.

Teman saya dan beberapa orang yang mengunjunginya berusaha memberikan dukungan dan semangat. Perlahan-lahan, bapak itu mulai bangkit. Kondisinya memang tidak kembali seperti semula, tetapi ia mulai menemukan alasan untuk tetap melanjutkan hidup.

Kesehatan yang baik adalah berkat, tetapi pengharapan adalah kekuatan. Menjaga tubuh dengan bijaksana dan menjaga hati tetap kuat adalah dua hal yang sama-sama penting.

Karena itu, sebelum terlambat, belajarlah mengendalikan diri. Bijaksanalah dalam memilih apa yang dikonsumsi, rawatlah tubuh dengan baik, dan jangan menukar kesehatan jangka panjang dengan kenikmatan sesaat.

Lidah menikmati sesaat, tetapi tubuh bisa menangisi akibatnya dalam waktu yang lama.


 *Disiplin hari ini sering kali terasa berat, tetapi penyesalan di kemudian hari bisa jauh lebih berat.*

(rt / rgy)


Berita Terdahulu


Berita Populer