MisindoGlobalNews, Jakarta 25 April 2026 - Minggu sore, 12 April 2026, menjadi hari yang mengubah segalanya bagi Abraham Ricky Hosada.
Hari itu dimulai seperti biasa.
Ia dan sang istri, Jeanny Elisabeth Tuilan, berangkat dari rumah untuk melayani di gereja (GPdI El Uzay).Dalam perjalanan, Jeanny yang mengemudikan mobil—sebuah kebiasaan karena ia dikenal lebih terampil dalam menyetir.
Tidak ada firasat.
Tidak ada tanda bahwa hari itu akan menjadi perpisahan.
Yang ada hanyalah kesetiaan… untuk melayani.
Di balik kehidupan pelayanan mereka, keduanya memiliki perjalanan hidup yang panjang. Ricky dikenal sebagai aktor laga yang telah berkiprah di industri perfilman nasional sejak usia muda. Ia membintangi sejumlah film dan menekuni berbagai bela diri seperti muay thai, kickboxing, taekwondo, dan kungfu.
Namun hidupnya tidak selalu berada di jalan terang. Ia pernah jatuh dalam masa kelam, hingga akhirnya mengalami titik balik rohani dan memilih hidup sebagai pengikut Kristus.
Di sisinya, Jeanny adalah sosok wanita yang lembut dan tenang namun kuat.
Perempuan kelahiran Makassar, 2 Desember 1960 itu menempuh pendidikan D1 Bahasa Inggris. Ia sempat mengajar di sekolah Katolik di Surabaya serta pernah bekerja sebagai Sekretaris di Citibank Jakarta dan juga pernah bekerja di IBN.
Namun ia memilih meninggalkan dunia profesional.
Bukan karena tidak mampu, tetapi karena Jeanny menemukan panggilan hidup: melayani Tuhan dan sesama.
Setibanya di gereja sore itu, Jeanny melayani sebagai worship leader (WL). Ibadah berlangsung dengan penuh khidmat hingga tiba pada sesi kesaksian.
Sebagai WL, ia memberikan kesempatan kepada jemaat untuk bersaksi.
Namun suasana hening.
Tidak ada yang maju.
Dengan mikrofon yang sudah berada di tangannya, Jeanny mau bersaksi sendiri—menceritakan kebaikan Tuhan dalam hidupnya, iman yang ia jalani, dan kasih yang ia hidupi setiap hari.
Tak ada yang menyangka, itu adalah yang terakhir.
Di tengah mau bersaksi, ia tiba-tiba merasakan pusing hebat hingga cepat duduk di kursi
Jemaat yang ada memberikan pertolongan pertama, namun kondisinya tidak kunjung membaik.
Jeanny kemudian dilarikan ke RS Koja, Tanjung Priok, untuk mendapatkan penanganan medis.
Hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darahnya mencapai angka 250. Pemindaian lanjutan mengungkap adanya pecah pembuluh darah di otak.
Ia sempat direncanakan untuk dirujuk ke Pusat Otak Nasional (PON) di Cawang
Namun kondisi tidak memungkinkan.
Pada 13 April 2026, sekitar pukul 12.15 WIB, Jeanny Elisabeth Tuilan berpulang ke Rumah Bapa di Surga
Ia benar-benar melayani… sampai akhir.
Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam, namun juga kesaksian hidup yang kuat bagi banyak orang.
Ia dikenal sebagai pribadi yang baik, ramah, dan tidak membeda-bedakan orang dalam pelayanan.
Baik kaya maupun miskin, semua dilayani dengan kasih yang sama.
Bagi Ricky, kehilangan ini adalah pukulan yang sangat berat.
Aktor yang selama ini dikenal kuat di layar itu kini harus menghadapi kenyataan tanpa sosok yang telah mendampinginya sejak pernikahan mereka pada 9 Oktober 2002.
“Kalau kehilangan harta masih bisa dicari,” ujarnya pelan, “tapi kehilangan pasangan hidup itu luar biasa.”
Namun di tengah duka, ia memilih untuk tetap percaya pada Kristus yang sumber kekuatan-Nya.
Bahwa Tuhan tidak pernah keliru.
Bahwa setiap bagian hidup—termasuk kehilangan—tetap berada dalam rencana-Nya.
Hari-hari setelah kepergian itu tidak mudah. Air mata masih datang di sela aktivitas. Kenangan hadir tanpa diundang.
Namun iman tetap dipegang.
Jeanny memegang satu ayat yang sederhana namun dalam: Filipi 1:21 — “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
Kini, ayat itu menjadi nyata dalam hidupnya.
Ia tidak hanya mengatakannya.
Ia menjalaninya.
Sampai akhir.
Bagi Ricky, cinta itu tidak berakhir di perpisahan.
Ia hidup dalam kenangan, dalam iman, dan dalam pengharapan—bahwa suatu saat mereka akan dipertemukan Tuhan kembali di Rumah Bapa yang kekal di Surga.
Di akhir kesaksiannya, Ricky tidak berbicara tentang kehilangan.
Ia berbicara tentang iman.
“Apa pun yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita, itu baik adanya,” katanya.
“Kita harus belajar mengucap syukur.”
1 Tesalonika 5:18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Tuhan di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
Ayub 1:21-22 katanya (kata Ayub): "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"
Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Elohim (Tuhan) berbuat yang kurang patut.
Sebuah kalimat sederhana.
Namun dari seseorang yang kehilangan, kalimat itu menjadi kesaksian yang hidup.
Bahwa melayani Tuhan bukan hanya saat kuat…
tetapi juga saat hati sedang hancur.
Sumber : Abraham Ricky Hosada
Jurnalist : rt/rgy