MisindoGlobalNews, 23 April 2026 - Tidak semua ketenangan lahir dari keadaan yang baik. Kadang justru muncul saat hidup sedang tidak memberi rasa aman sama sekali.
Ada seorang pria yang menunggu hasil pemeriksaan medis yang cukup serius. Dokter mengatakan bahwa hasilnya baru keluar keesokan hari, dan kemungkinan yang ada tidak ringan. Malam itu, keluarganya gelisah. Pikiran mereka berlari ke berbagai kemungkinan terburuk. Namun pria itu justru memilih untuk beristirahat. Ia mematikan lampu, menarik selimut, dan tidur seperti biasa.
Ketika ditanya mengapa ia bisa setenang itu, jawabannya sederhana: ia sudah melakukan bagian yang bisa ia lakukan. Selebihnya bukan lagi dalam kendalinya. Mengkhawatirkannya sepanjang malam tidak akan mengubah hasilnya sedikit pun.
Sikap seperti ini terdengar sederhana, tetapi tidak mudah dijalani.
Kita terbiasa ingin mengendalikan segalanya. Kita merasa harus memikirkan semua kemungkinan, seolah-olah dengan begitu kita bisa mengurangi risiko atau mempercepat solusi. Padahal seringkali, yang kita lakukan hanyalah memperpanjang kegelisahan.
Kisah Petrus memberikan gambaran yang jauh lebih dalam tentang hal ini. Dalam kondisi terikat, dijaga ketat, dan berada di bawah ancaman nyata, ia justru tertidur. Bukan karena ia tidak peduli, tetapi karena ia tidak lagi menggenggam kendali yang memang bukan miliknya.
Ia memilih percaya.
Percaya bahwa hidupnya ada dalam tangan Elohim.
Percaya bahwa apa pun yang terjadi, tidak ada yang lepas dari perhatian-Nya.
Dan kepercayaan itu menghasilkan sesuatu yang tidak bisa dibuat-buat: damai.
Seperti yang tertulis:
“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7)
Damai seperti ini tidak bergantung pada situasi. Ia tidak menunggu masalah selesai. Ia hadir justru ketika seseorang berhenti berusaha menguasai hal-hal yang memang tidak bisa ia kendalikan.
Namun di sinilah pergumulannya.
Menyerahkan bukan berarti menyerah tanpa arah. Menyerahkan berarti mempercayakan—dengan sadar—bahwa Elohim tetap bekerja, bahkan ketika kita tidak melihat apa-apa.
Itulah yang seringkali sulit.
Kita ingin bukti sebelum percaya.
Kita ingin kepastian sebelum tenang.
Kita ingin hasil sebelum bisa beristirahat.
Padahal damai bekerja dengan cara yang berbeda.
“Dalam damai sejahtera aku hendak membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkau saja, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.” (Mazmur 4:9)
Ayat ini bukan sekadar kata-kata indah. Ia menjadi nyata ketika seseorang benar-benar memilih untuk mempercayakan hidupnya.
Malam mungkin tidak berubah.
Masalah mungkin masih ada.
Jawaban mungkin belum datang.
Namun hati bisa berbeda.
Lebih tenang, karena tidak lagi memikul semuanya sendiri.
Lebih ringan, karena tahu ada tangan yang lebih kuat yang sedang bekerja.
Dan di situlah, seperti Petrus, seseorang bisa melakukan hal yang bagi banyak orang terasa mustahil:
*beristirahat di tengah ketidakpastian.*
(rt / rgy)