Langkah Pelan Seorang Kakek yang Menolak Menyerah

label

Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |
Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |

iklan

iklan

Langkah Pelan Seorang Kakek yang Menolak Menyerah

Kamis


MisindoGlobalNews, Bandung, 16 April 2026 — Di tengah ramainya jalanan kota Bandung, ada langkah kecil yang sering luput dari perhatian. Langkah itu pelan… tertatih… namun tak pernah benar-benar berhenti.

Namanya Nardi. Seorang kakek berusia 84 tahun, kelahiran 1942 di Bandung—di masa ketika negeri ini masih diliputi suasana perang. Ia berasal dari keluarga sederhana dengan orang tua berdarah Tegal.

Setiap hari, dari rumahnya yang sederhana di kawasan Jalan Holis, ia berjalan kaki menyusuri jalanan kota. Bukan untuk sekadar berjalan-jalan, melainkan untuk bertahan hidup.

Di tangannya tergantung berbagai mainan kecil: angsa-angsa, ayam-ayaman, merak-merakan, kolecèr, hingga tokoh Upin Ipin. Semua itu ia rakit sendiri dari bahan-bahan yang dikirim dari Jepara. Satu mainan dijual seharga Rp20.000,00 dengan keuntungan sekitar Rp5.000,00

Jika beruntung, dalam sehari ia bisa menjual empat hingga enam buah. Namun tak jarang, hari berlalu tanpa satu pun mainan terjual.

Untuk makan, ia tidak menuntut banyak. Nasi putih, kerupuk, dan sambal sudah cukup baginya. Bukan karena ia tidak ingin lebih, tetapi karena hidup tidak selalu memberinya banyak pilihan.

Padahal, ia bukan tidak memiliki keluarga. Nardi memiliki enam orang anak—empat laki-laki dan dua perempuan—yang tinggal di luar Bandung. Ia juga memiliki delapan cucu yang semuanya telah berkeluarga.


Namun di usia senjanya, ia memilih tinggal sendiri. Bukan karena ditinggalkan, melainkan karena ia tidak ingin bergantung.

“Kalau dikasih, saya terima… kalau tidak, ya saya jualan,” ucapnya pelan.

Ia tidak pernah meminta, bahkan kepada anak-anaknya sendiri. Lebih dari itu, ada satu kalimat sederhana yang begitu dalam maknanya:

“Tidak apa-apa saya begini… yang penting tidak mengemis.”

Kalimat itu mungkin terdengar biasa, namun menyimpan harga diri yang tidak semua orang miliki.

Sejak muda, hidupnya sudah akrab dengan kerasnya perjuangan. Pada tahun 1958, ia bekerja di kapal laut di Semarang dengan gaji Rp100,00 (seratus rupiah) Dua tahun kemudian, pada tahun 1960, ia menikah di Semarang dengan seorang perempuan asal Cirebon, saat penghasilannya telah mencapai Rp500,00 (lima ratus rupiah)

Perjalanan hidup yang penuh kerja keras itu terus berlanjut hingga hari ini. Di usia 84 tahun, ketika tubuhnya tak lagi sekuat dulu, ia tetap berjuang dengan caranya sendiri.

Yang lebih menyayat hati, selama ini ia mengaku belum pernah merasakan bantuan sosial dari pemerintah. Padahal, langkahnya kini tak lagi ringan, dan tenaganya kian terbatas.

Meski demikian, ia tetap berjalan setiap hari—menjual harapan di tengah hiruk-pikuk kota.

Sesekali, Tuhan seolah mengirimkan kebaikan melalui orang-orang yang berhati lembut. Ada yang membeli satu mainan, namun membayar Rp100.000 tanpa meminta kembalian. Bagi sebagian orang mungkin itu hal kecil, tetapi bagi Nardi, itu adalah pengingat bahwa ia tidak sendirian.

Di balik wajah tuanya, tersimpan satu harapan sederhana: menikmati masa tua dengan tenang, seperti orang tua lainnya. Namun kenyataan membuatnya tetap harus melangkah.

Kisah Nardi bukan sekadar tentang kemiskinan. Ini adalah kisah tentang harga diri, keteguhan, dan hati yang menolak menyerah.

Di saat banyak orang mengeluh karena kekurangan, ia tetap bersyukur dalam kesederhanaan. Di saat banyak orang memilih jalan mudah, ia tetap berjalan di jalur yang bermartabat.

Dan di setiap langkah pelannya, ada pelajaran besar bagi kita semua:

Bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki…
melainkan tentang seberapa kuat kita bertahan tanpa kehilangan hati.
(rt / rgy)


Berita Terdahulu


Berita Populer