MisindoGlobalNews, April 2026 -
Ada satu kenyataan rohani yang sering kali membuat manusia tidak nyaman: Elohim tidak bekerja dengan cara yang seragam. Dalam hidup, kita melihat perbedaan—ada yang seakan melangkah lebih cepat, ada yang tertinggal; ada yang mengalami kemenangan, sementara yang lain masih bergumul. Bagi sebagian orang, ini terasa tidak adil. Namun Kitab Suci justru memperlihatkan bahwa di balik semua itu ada kedaulatan Elohim yang bekerja melampaui pemahaman manusia.
Dalam Hakim-hakim 1, ketika bangsa Israel mencari arah, Elohim menunjuk Yehuda untuk maju lebih dahulu. Ini bukan sekadar urutan atau kebetulan, melainkan bagian dari rencana besar-Nya. Dari suku Yehuda akan lahir garis raja-raja, bahkan janji tentang Mesias. Namun yang menarik, pemilihan itu tidak berdiri sendiri. Yehuda tidak hanya dipilih, mereka juga merespons. Mereka bergerak, mereka berperang, dan mereka tidak menunda. Di situlah kemenangan demi kemenangan terjadi. Dari sini terlihat jelas bahwa pilihan Elohim selalu berjalan seiring dengan tanggung jawab manusia.
Sebaliknya, suku-suku lain tidak mengalami hal yang sama. Bukan karena mereka tidak memiliki janji, melainkan karena mereka tidak menuntaskan apa yang telah diperintahkan. Mereka membiarkan sisa musuh tetap tinggal, memilih kompromi daripada ketaatan penuh, dan berhenti sebelum selesai. Akibatnya, kemenangan mereka tidak pernah utuh. Ini bukan karena Elohim berubah, tetapi karena respon manusia yang tidak sungguh-sungguh.
Gambaran yang serupa muncul dalam Yohanes 20:1-10. Kubur kosong menjadi fakta yang sama bagi semua murid. Tidak ada yang melihat hal yang berbeda. Namun respon mereka tidak sama. Maria larut dalam kesedihan, Petrus menyelidiki dengan penuh rasa ingin tahu, sementara murid yang dikasihi langsung percaya. Perbedaannya bukan pada apa yang mereka lihat, melainkan pada bagaimana mereka merespons apa yang ada di hadapan mereka.
Kitab itu mencatat, “ia melihat dan percaya,” padahal pada saat itu mereka belum sepenuhnya memahami isi Kitab Suci. Di sini kita belajar bahwa iman tidak selalu lahir dari pengertian yang lengkap. Justru sering kali iman menjadi langkah awal yang membuka jalan bagi pengertian. Banyak orang hari ini menunda percaya karena merasa harus mengerti terlebih dahulu, padahal Elohim sering mengundang kita untuk percaya sebelum semuanya menjadi jelas.
Jika kita jujur, sering kali masalah dalam hidup rohani bukan terletak pada Elohim. Ia sudah berbicara, Ia sudah menunjukkan jalan, bahkan Ia sudah menyatakan kuasa-Nya. Namun respon kita kerap setengah hati, ragu-ragu, atau tertunda. Tanpa disadari, kita kehilangan momentum anugerah yang sebenarnya sudah tersedia.
Kenyataannya, tidak semua orang mengalami kedalaman rohani yang sama. Bukan karena Elohim tidak adil, tetapi karena tidak semua orang mau taat sepenuhnya, tidak semua peka terhadap suara-Nya, dan tidak semua berani melangkah tanpa kepastian penuh. Ini adalah cermin yang jujur bagi setiap kita.
Hari ini, pertanyaannya bukan lagi mengapa orang lain tampak lebih dipilih, melainkan bagaimana respon kita sendiri. Apakah kita taat ketika Elohim memanggil? Apakah kita menyelesaikan apa yang telah Ia percayakan? Apakah kita berani percaya meskipun belum sepenuhnya mengerti?
Elohim tetap berdaulat dan tidak pernah keliru dalam menetapkan. Namun arah hidup seseorang sering kali ditentukan oleh responnya. Yehuda melangkah dan mengalami kemenangan. Seorang murid percaya dan melihat lebih dulu. Dan kita pun sedang menulis arah hidup kita melalui setiap respon yang kita ambil.
Pada akhirnya, bukan perbedaan perlakuan Elohim yang menentukan hasil, melainkan kesungguhan manusia dalam merespons anugerah-Nya.
Penulis : Kefas Hervin Devananda
Disunting : rgy