Oma Elisa, Perempuan Tangguh yang Hidup dari Doa

label

Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |
Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |

iklan

iklan

Oma Elisa, Perempuan Tangguh yang Hidup dari Doa

Selasa



MisindoGlobalNews, Maret 2026 - Diceritakan oleh : ibu Mei, 58 tahun (BSD, Tangerang Selatan)
Disunting oleh.   : (rt / rgy)


 *Pendahuluan: Warisan Iman yang Tak Ternilai* 

Setiap keluarga memiliki sosok yang menjadi pilar rohani. Dalam keluarga kami, sosok itu adalah Oma Elisa—nenek dari pihak Ayah. Sejak masa kecil, remaja, hingga saya berumah tangga, saya melihat bagaimana hidup Oma selalu ditopang oleh doa, iman, dan keteguhan hati.

Melalui hidupnya, saya belajar bahwa iman yang sungguh-sungguh bukan hanya terlihat di gereja, tetapi di ruang-ruang kecil kehidupan sehari-hari.

“Orang benar akan hidup oleh iman.” — Habakuk 2:4

 *Masa Kecil: Surat-Surat Cinta dari Oma* 

Ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Oma tinggal di kota Bandung, sementara kami tinggal di desa di Jawa Tengah. Saya dan kakak sering mengirim surat untuk bertanya kabarnya. Kami baru mengetahui kemudian bahwa Oma tidak bisa membaca dan menulis, sehingga setiap surat kami dibacakan oleh orang lain, dan setiap balasan yang kami terima adalah hasil dikte yang ia ucapkan.

Namun surat-surat itu penuh kasih, perhatian, dan doa.

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati.” — 1 Korintus 13:4

Oma menjalin hubungan dengan cucu-cucunya dengan cara terbaik yang ia mampu. Tidak ada keterbatasan yang menghalangi kasihnya.

 *Kehidupan Sehari-Hari: Keterampilan, Keanggunan, dan Kerajinan* 

Oma Elisa memiliki sembilan anak dan puluhan cucu. Meski keluarganya besar, ia selalu memperhatikan setiap detail kehidupan anak-cucunya.

Saya masih ingat:

Oma selalu tampil rapi dengan kebaya encim, kain sarung motif pecinan, dan konde yang tersanggul rapi.
Oma sangat pandai memasak. Setiap kali berkunjung, ia selalu membawa oleh-oleh masakan.
Ketika ibu saya menyiapkan kain kebaya untuk Oma, ia sering meminta pendapat saya mengenai motif yang cocok.

Dalam keseharian, Oma mengajarkan bahwa kemuliaan Tuhan dapat tercermin dalam cara kita merawat diri dan mengerjakan hal-hal kecil dengan sungguh-sungguh.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan.” — Kolose 3:23

 *Saat Tinggal Bersama: Melihat Iman dari Dekat* 

Ketika saya SMA, saya tinggal bersama Oma selama tiga tahun. Dari sinilah saya benar-benar mengenal siapa Oma Elisa sebenarnya.

Meski sudah lanjut usia, Oma tetap aktif:

setiap pagi pergi ke pasar,
memasak untuk kami,
bahkan masih naik tangga untuk menjemur pakaian.

Namun yang paling membekas bukan sekadar aktivitasnya, tetapi kebiasaan rohaninya.

 *1. Oma yang Hidup Dalam Doa* 

Setiap malam, saya sering melihat Oma berlutut di samping tempat tidur dan berdoa dengan suara jelas. Doanya tidak hanya sebentar; kadang lebih dari dua menit, penuh kesungguhan.

Yang paling mengagumkan adalah saat ia menyebut nama semua anak, mantu, dan puluhan cucunya satu per satu dalam doa. Tidak pernah sekalipun ia melewatkan kami.

“Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” — Yakobus 5:16

Doa bukan sekadar rutinitas; doa adalah napas rohani bagi Oma.

 *2. Oma yang Percaya Penuh kepada Tuhan Saat Sakit* 

Ketika lututnya sakit, Oma tidak mengeluh. Ia mengambil waktu untuk duduk tenang, mengelus lututnya sambil mengucap syukur, menyanyikan pujian, lalu berdoa:

“Dalam Nama Yesus, sembuh!”

Tak peduli apakah ada obat atau tidak, ia tetap percaya bahwa Tuhan adalah Tabib teragung.

“Sebab Aku ini Tuhan yang menyembuhkan engkau.” — Keluaran 15:26

 *Pelajaran Hidup: Warisan yang Tidak Pernah Luntur* 

Dari cerita-cerita perjuangan Oma di masa mudanya hingga nasihatnya mengenai bagaimana menjadi istri dan ibu, semua itu baru saya sadari betul maknanya ketika saya beranjak dewasa.

Oma Elisa bukan hanya perempuan kuat secara fisik, tetapi kuat karena imannya.
 Ia menjalani kehidupan dengan:

hati yang selalu bersyukur,
semangat yang tidak padam,
doa yang tidak pernah berhenti,
dan iman yang nyata dalam tindakan.

Kini, ketika melihat ke belakang, saya sangat bersyukur boleh dibesarkan oleh seorang perempuan yang hidupnya mencerminkan kasih dan kuasa Tuhan.

“Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.” — Yosua 24:15

 *Penutup: Terima Kasih Tuhan, untuk Oma* 

Oma Elisa telah pulang ke rumah Bapa, tetapi teladan imannya tetap hidup dalam keluarga kami. Doanya, kesederhanaannya, dan keteguhan hatinya menjadi warisan yang tak ternilai.

Saya bersyukur pernah mengenal seorang perempuan yang bukan hanya mengasihi keluarganya, tetapi juga mengasihi Tuhan dengan segenap hati.

Terima kasih Tuhan atas kehidupan Oma Elisa—
 seorang perempuan tangguh yang hidup dari doa.


Berita Terdahulu


Berita Populer