Ramai di Layar, Sepi di Hati

label

Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |
Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |

iklan

iklan

Ramai di Layar, Sepi di Hati

Minggu


MisindoGlobalNews, Bandung, 6 April 2026 - Pernahkah Anda berada di satu ruangan bersama banyak orang—keluarga, teman, atau rekan kerja—namun suasananya terasa… sepi?

Semua hadir.
Semua dekat secara fisik.
Namun masing-masing sibuk dengan layar di tangan.

Jari aktif menggulir.
Mata tertuju pada gadget.
Tawa terdengar… tapi bukan karena kebersamaan.

Ramai di layar, tapi sepi di hati.

Sejak awal, manusia tidak diciptakan untuk hidup seperti itu.

Dalam Kitab Kejadian 2:18, Elohim YHWH berfirman:
“Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja.”

Ini bukan sekadar tentang Adam yang membutuhkan Hawa.
Ini adalah prinsip kehidupan: manusia diciptakan untuk berelasi, bukan sekadar berinteraksi.

Kita butuh:

didengar dengan sungguh
dipahami dengan hati
disapa dengan kasih

Bukan hanya “online”, tetapi benar-benar terhubung secara nyata.


Namun hari ini, tanpa kita sadari, banyak hal telah berubah.

Teknologi yang seharusnya mendekatkan,
justru seringkali menciptakan jarak.

Kita lebih:
cepat membalas pesan daripada menyapa orang di samping

sibuk dengan dunia maya daripada memperhatikan keluarga

aktif di media sosial, tapi pasif dalam hubungan nyata

Akibatnya, banyak orang merasa kesepian…
bahkan di tengah keramaian.


Padahal solusi itu sederhana—dan sudah ada sejak awal.

Jika dulu Elohim menyediakan penolong bagi Adam,
hari ini…
kitalah yang dipanggil untuk menjadi kehadiran itu bagi orang lain.

Mulailah dari hal kecil:
letakkan sejenak gawai
tatap mata orang yang ada di depan kita
dengarkan tanpa terburu-buru
hadir dengan hati, bukan hanya tubuh


Karena seringkali,
yang dibutuhkan seseorang bukan kata-kata besar…
melainkan kehadiran yang tulus.


Jangan sampai kita sibuk membangun koneksi di layar,
tetapi kehilangan hubungan di kehidupan nyata.

Mari kembali pada panggilan semula:
menjadi manusia yang hadir, mengasihi, dan peduli.

Karena di dunia yang “ramai di layar”,
Tuhan rindu melihat kita membawa kehangatan—
agar tidak ada lagi hati yang merasa sepi.

Doa singkat:
Bapa YHWH, ampuni jika aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Ajarku untuk benar-benar hadir bagi orang lain. Pakai hidupku menjadi saluran kasih-Mu, agar mereka yang sepi boleh merasakan kehangatan dari-Mu. Amin.

(rt / rgy)


Berita Terdahulu


Berita Populer