Hari ASEAN 2026, Indonesia Ajak Kawasan Perkuat Persatuan Melalui Literasi Keagamaan Lintas Budaya

label

Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |
Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |

iklan

iklan

Hari ASEAN 2026, Indonesia Ajak Kawasan Perkuat Persatuan Melalui Literasi Keagamaan Lintas Budaya

Jumat

MisindoGlobalNews, JAKARTA, 7 Agustus 2026  – Menjelang peringatan Hari ASEAN pada 8 Agustus 2026, Indonesia mengajak negara-negara di Asia Tenggara memperkuat kohesi sosial melalui pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) atau Cross-Cultural Religious Literacy. Pendekatan ini dinilai mampu memperkuat rasa saling percaya dan memperkokoh kehidupan damai di tengah keberagaman masyarakat ASEAN.

Gagasan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, Ina H. Krisnamurthi, saat menjadi pembicara dalam webinar internasional bertajuk "Literasi Keagamaan Lintas Budaya untuk Kohesi Sosial dan Perdamaian di Asia Tenggara" yang diselenggarakan Institut Leimena bersama Sasakawa Peace Foundation, Kamis (6/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 1.800 peserta dari berbagai kalangan.

Menurut Ina, masa depan ASEAN tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga ditentukan oleh kemampuan masyarakatnya menjaga kepercayaan, memperkuat toleransi, dan membangun saling pengertian di tengah perbedaan agama, budaya, serta tradisi.

Ia menjelaskan bahwa pentingnya Literasi Keagamaan Lintas Budaya telah mendapat pengakuan dalam Visi Komunitas ASEAN 2045, terutama pada pilar Komunitas Politik-Keamanan dan Komunitas Sosial-Budaya ASEAN. Meski demikian, kawasan masih menghadapi berbagai tantangan berupa intoleransi, prasangka, dan praktik eksklusivisme yang dapat mengganggu harmoni sosial.

Ina menilai hidup berdampingan secara fisik belum cukup untuk menciptakan hubungan yang harmonis apabila tidak disertai pemahaman yang mendalam terhadap latar belakang dan keyakinan masing-masing.

"Literasi keagamaan lintas budaya bukan sekadar mempelajari agama lain, tetapi belajar memahami satu sama lain. Dengan cara itu, keberagaman dapat menjadi kekuatan yang mempererat persatuan, bukan sumber perpecahan," ujarnya.

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan program LKLB telah dikembangkan sejak 2021 melalui pelatihan bagi guru madrasah dan sekolah di Indonesia. Seiring perkembangannya, program tersebut menjadi ruang pertukaran pengalaman dengan berbagai negara yang menghadapi tantangan serupa dalam menjaga kerukunan masyarakat.

Menurut Matius, kerja sama Institut Leimena dan Sasakawa Peace Foundation di Provinsi Maluku sejak 2024 menjadi contoh bagaimana pendidikan dapat berperan dalam memperkuat perdamaian di tingkat akar rumput. Program tersebut bahkan menarik perhatian sejumlah lembaga dari Vietnam dan Filipina yang datang mempelajari penerapan LKLB di Indonesia.

Ia mengungkapkan, pada pertengahan Agustus 2026 Indonesia juga akan menerima kunjungan delegasi dari Vietnam, Laos, dan Kamboja untuk mempelajari implementasi program tersebut bersama puluhan lembaga pendidikan dan organisasi keagamaan.

Direktur Program Pembangunan Perdamaian Sasakawa Peace Foundation, Maho Nakayama, menyampaikan apresiasinya terhadap pendekatan yang dikembangkan Indonesia. Menurutnya, pengalaman di Maluku menunjukkan bahwa pendidikan berbasis dialog mampu membantu membangun kembali kepercayaan masyarakat pascakonflik sekaligus memperkuat proses rekonsiliasi.

Pandangan serupa disampaikan peneliti Sasakawa Peace Foundation, Jin Fujimoto. Ia menilai para guru memiliki peran penting sebagai agen perubahan dalam menanamkan nilai toleransi kepada generasi muda. Salah satu praktik yang dinilai berhasil adalah mendorong kolaborasi guru untuk menciptakan lagu-lagu bertema perdamaian serta menghidupkan kembali tradisi lokal "pela gandong" sebagai simbol persaudaraan masyarakat Maluku.

Sementara itu, peneliti International Institute of Social Studies (ISS) Erasmus University Rotterdam, Yuyun Wahyuningrum, menggambarkan LKLB sebagai langkah preventif dalam menjaga kehidupan sosial. Menurutnya, pendekatan tersebut membantu masyarakat mengenali dan mengkritisi narasi kebencian sejak dini sehingga tidak berkembang menjadi diskriminasi maupun konflik.

Melalui penguatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya, Indonesia berharap ASEAN semakin kokoh sebagai kawasan yang damai, inklusif, dan mampu menjadikan keberagaman sebagai modal utama untuk membangun masa depan bersama.

(Sumber : institut Leimena)


Berita Terdahulu


Berita Populer