MisindoGlobalNews, CILEGON, 7 Aggustus 2026 – Persoalan pengelolaan sampah di Indonesia masih memerlukan berbagai terobosan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2025 mencatat sekitar 21,84 juta ton atau 68,42 persen dari total 35 juta ton sampah yang dihasilkan setiap tahun di 295 kabupaten dan kota belum tertangani secara optimal. Salah satu solusi yang dinilai efektif adalah pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung sistem pengelolaan sampah yang lebih efisien.
Menjawab kebutuhan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Ilmu Komputer Universitas Pertamina mengimplementasikan aplikasi berbasis web Net Zero Trash (Netrash) di Forum Bank Sampah Kota Cilegon. Program ini dipimpin Dr. Muhammad Zaki Almuzakki, S.Si., M.Si., dengan mengadopsi hasil penelitian Intan Oktafiani, S.Kom., M.T.
Pelaksanaan program berlangsung di Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon, dan melibatkan pengurus bank sampah, aparatur wilayah, serta masyarakat setempat. Melalui Netrash, proses administrasi bank sampah yang sebelumnya dilakukan secara manual kini dapat dikelola secara digital sehingga pencatatan transaksi, pengelolaan saldo nasabah, hingga penyusunan data menjadi lebih tertib dan akurat.
Menurut Dr. Muhammad Zaki Almuzakki, digitalisasi diperlukan karena masih banyak bank sampah yang menghadapi kendala administrasi akibat sistem pencatatan konvensional.
"Kesalahan transaksi maupun perhitungan saldo sering terjadi karena prosesnya masih manual. Dengan Netrash, administrasi menjadi lebih cepat, akurat, dan transparan sehingga pengelola dapat lebih fokus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat," jelasnya.
Tak hanya mendukung operasional bank sampah, Netrash juga dirancang untuk memperluas keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas. Melalui platform netrash.id, masyarakat dapat mendaftar sebagai mitra maupun pengurus bank sampah sehingga diharapkan semakin banyak warga yang terlibat dalam upaya pengurangan sampah dari sumbernya.
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh para pengelola bank sampah. Mahsunah, pengurus Bank Sampah Unit (BSU) Gebrak 05, mengungkapkan bahwa pendampingan dari Universitas Pertamina memberikan semangat baru bagi para pengelola.
"Bank sampah selama ini sering dipandang sebelah mata. Dengan adanya pendampingan dan inovasi seperti Netrash, kami semakin optimistis pengelolaan sampah bisa dilakukan secara profesional dan memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," ujarnya.
Pengembangan Netrash mendapat dukungan melalui Hibah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Tahun 2026. Tim pengembang berencana terus menyempurnakan berbagai fitur aplikasi agar mampu mengikuti kebutuhan pengelolaan bank sampah yang terus berkembang sekaligus memperluas pemanfaatannya di berbagai daerah.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menilai Netrash menjadi bukti bahwa hasil penelitian perguruan tinggi dapat diimplementasikan menjadi solusi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, Universitas Pertamina terus mendorong dosen dan mahasiswa menghasilkan inovasi yang tidak hanya berhenti sebagai penelitian, tetapi juga mampu menjawab persoalan nyata melalui sinergi pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satunya diwujudkan melalui pengembangan solusi digital di Program Studi Ilmu Komputer, khususnya pada peminatan Software and Application Development.
(Christin)