Sepak bola seharusnya menjadi olahraga yang menyatukan, bukan alasan untuk menyakiti sesama. Namun, penyerangan terhadap rombongan Persib Bandung U-18 di Rest Area Batang, Jawa Tengah, pada Minggu malam (11 Oktober 2026), menunjukkan bagaimana fanatisme yang kehilangan kendali dapat berubah menjadi tindakan memalukan.
Bus diserang, kaca pecah akibat lemparan, dan seorang personel media dilaporkan mengalami kekerasan fisik. Lebih menyedihkan, peristiwa ini melibatkan pemain-pemain muda yang sedang berjuang mengejar cita-cita melalui sepak bola.
Mereka datang untuk bertanding, bukan untuk berperang!
Ketika Kebanggaan Berubah Menjadi Kebencian
Mendukung klub kesayangan bukanlah kesalahan. Mengenakan atribut klub, menyanyikan yel-yel, dan merayakan kemenangan merupakan bagian dari semangat suporter. Namun, ketika dukungan berubah menjadi kebencian dan kekerasan, fanatisme bukan lagi kebanggaan, melainkan aib.
Warna seragam boleh berbeda, lambang klub boleh berlainan, dan rivalitas boleh berlangsung sengit di lapangan. Namun, tidak ada perbedaan yang membenarkan tindakan menyakiti sesama.
Kekuatan sejati bukanlah kemampuan mengalahkan atau menyakiti orang lain, melainkan keberanian mengendalikan diri. Seseorang mungkin merasa gagah ketika menyerang lawan, tetapi sesungguhnya ia sedang menunjukkan kegagalan menguasai emosinya sendiri.
Kita tidak bisa mengaku menjunjung tinggi sportivitas jika perbedaan justru dijadikan alasan untuk membenci dan melukai. Menghormati lawan, menerima kekalahan, dan merayakan kemenangan tanpa merendahkan pihak lain merupakan bagian dari kedewasaan dalam berolahraga.
Kita juga tidak boleh menggeneralisasi semua suporter karena ulah segelintir orang. Namun, setiap tindakan kekerasan harus ditindak tegas, dan sportivitas harus dibangun bersama.
Jangan Kehilangan Hati Nurani
Rivalitas boleh membara, tetapi kemanusiaan tidak boleh terbakar. Mendukung klub adalah hak, tetapi melukai orang lain bukanlah bagian dari hak tersebut.
Jangan mengaku suporter sejati jika demi membela klub, kita justru mencederai kemanusiaan. Jangan bangga membawa nama klub jika perilaku kita membuatnya tercoreng.
Trofi bisa diperebutkan dan kemenangan bisa dirayakan. Namun, ketika sportivitas hilang dan kebencian menguasai hati, sepak bola kehilangan kehormatannya—dan manusia kehilangan kemanusiaannya.
Sebab, kemenangan terbesar bukanlah ketika tim kesayangan berhasil mengalahkan lawan, melainkan ketika kita mampu menjaga martabat, menghormati sesama, dan tetap menjadi manusia yang beradab di tengah rivalitas.
(rt / rgy)