*Menjaga Indonesia dengan Kesetaraan*
MisindoGlobalNews, Bogor, Maret 2026 — Indonesia tidak kekurangan semboyan tentang kebersamaan. Dari Bhinneka Tunggal Ika hingga “bersatu kita teguh,” semua terdengar kuat dan indah. Namun pertanyaannya sederhana: apakah kebersamaan itu benar-benar kita hidupi, atau hanya kita ucapkan?
Kita sering bangga dengan keberagaman—ribuan pulau, ratusan bahasa, dan berbagai keyakinan. Tetapi kebersamaan sejati tidak lahir dari keberagaman itu sendiri. Ia lahir dari satu hal yang sering terabaikan: kesetaraan.
Tanpa kesetaraan, kebersamaan hanyalah ilusi yang rapuh.
Kearifan Nusantara sebenarnya telah lama mengajarkan hal ini. Pepatah “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” bukan sekadar ajakan gotong royong, tetapi pengingat bahwa hidup harus dijalani dalam posisi yang setara.
Falsafah Jawa mengingatkan, “rukun agawe santosa, crah agawe bubrah.” Namun kerukunan tidak akan pernah terjadi jika masih ada rasa lebih tinggi, lebih benar, atau lebih berhak.
Minangkabau menegaskan, “duduak samo randah, tagak samo tinggi”—sebuah pernyataan bahwa martabat manusia tidak boleh ditakar oleh perbedaan.
Bugis mengajarkan “sipakatau, sipakalebbi, sipakainge”—memanusiakan manusia adalah dasar kehidupan. Sunda menanamkan “silih asah, silih asih, silih asuh,” sementara Batak melalui Dalihan Na Tolu menekankan keseimbangan relasi.
Semua mengarah pada satu titik yang sama: kebersamaan hanya mungkin jika kesetaraan dijaga.
Nilai ini bukan hanya milik budaya, tetapi juga tertanam dalam fondasi negara. Pancasila menegaskan kemanusiaan yang adil dan beradab, serta persatuan Indonesia. Konstitusi pun menjamin kebebasan berkeyakinan dan perlindungan dari diskriminasi.
Artinya, kesetaraan bukan sekadar pilihan moral—ia adalah amanat bangsa.
Namun realitas hari ini justru menunjukkan arah sebaliknya.
Kita hidup di era yang semakin bebas, tetapi juga semakin mudah menghakimi. Kita berbicara tentang persatuan, tetapi membangun batas-batas baru melalui prasangka dan eksklusivitas. Kita lebih nyaman hidup dalam lingkaran yang serupa, dan perlahan menjauh dari yang berbeda.
Di titik ini, kebersamaan berubah menjadi sekadar koeksistensi—hidup berdampingan tanpa benar-benar terhubung.
Padahal, harmoni tidak pernah lahir dari keseragaman. Seperti tumpeng dengan berbagai lauknya, justru perbedaanlah yang menciptakan keutuhan.
Kesetaraan memang tidak mudah. Ia menuntut keberanian untuk menurunkan ego, membuka ruang dialog, dan menghormati orang lain—bahkan ketika kita tidak sepakat.
Di era digital, tantangan ini semakin besar. Satu kalimat dapat memicu perpecahan, satu narasi dapat memperdalam jurang. Karena itu, menjaga kebersamaan hari ini bukan hanya soal hidup bersama, tetapi tentang kesadaran untuk tidak melukai ruang bersama.
Kita perlu kembali pada kesederhanaan nilai yang sering dilupakan: bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama.
Ketika kesetaraan dijaga, kebersamaan menjadi kekuatan. Ketika kesetaraan diabaikan, kebersamaan hanya menjadi slogan.
Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak seruan persatuan. Indonesia membutuhkan lebih banyak praktik kesetaraan.
Karena pada akhirnya, yang menjaga bangsa ini tetap utuh bukanlah kesamaan, melainkan kemampuan untuk menghormati perbedaan dalam posisi yang setara.
Salam Kebangsaan
Menjadi diri sendiri tanpa merendahkan yang lain adalah tanda kedewasaan berbangsa.
Dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika, kita tidak diminta untuk menjadi sama, tetapi dipanggil untuk berdiri sejajar.
Mari melangkah dengan rendah hati, berpikir terbuka, dan bertindak dengan empati.
Sebab menjaga sesama bukan karena mereka sama dengan kita, melainkan karena mereka bagian dari kita.
Damai dalam perbedaan.
Kuat dalam persatuan.
Luhur dalam kemanusiaan.
Penulis : Kefas Hervin Devananda
Editor : èrgèyè