MisindoGlobalNews, 18 Oktober 2036 - Bayangkan sebuah pohon yang selama bertahun-tahun memberikan keteduhan dan buah bagi banyak orang. Namun, ketika pohon itu membutuhkan perawatan, tidak ada yang peduli. Setelah pohon itu tumbang, barulah mereka menyadari betapa besar manfaat yang selama ini mereka nikmati.
Bukankah kehidupan manusia terkadang seperti itu?
Kisah Tong Sin Fu, legenda bulu tangkis kelahiran Teluk Betung, Lampung, memberikan pelajaran yang menyentuh. Ia pernah mengabdikan keahlian dan pengalamannya untuk membina atlet-atlet Indonesia hingga meraih prestasi membanggakan. Namun, perjuangannya mendapatkan kewarganegaraan Indonesia berakhir dengan penolakan pada 1998. Ia akhirnya meninggalkan Indonesia dan melanjutkan hidup di Tiongkok.
Kisah ini menyisakan ironi: seseorang yang telah memberikan kontribusi besar bagi olahraga Indonesia justru harus meninggalkan negeri tempat ia dilahirkan karena persoalan kewarganegaraan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering mengagumi prestasi seseorang, tetapi lupa menghargai manusianya. Kita menikmati hasil kerja keras dan pengabdiannya, tetapi terkadang tidak peduli ketika ia menghadapi kesulitan. Kita baru menyadari arti kehadirannya setelah ia tidak lagi berada di sekitar kita.
Padahal, penghargaan sejati bukan sekadar pujian atau tepuk tangan. Penghargaan juga berarti memperlakukan seseorang secara adil, menghormati martabatnya, serta menunjukkan kepedulian ketika ia membutuhkan dukungan.
Kisah Tong Sin Fu mengajak kita untuk bercermin. Sudahkah kita menghargai orang-orang yang telah memberikan kontribusi bagi kehidupan kita? Sudahkah kita memperlakukan mereka dengan adil, terutama ketika kita memiliki wewenang untuk menentukan nasib mereka?
Seseorang tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan manfaat yang dapat diberikannya. Ia bukan sekadar alat untuk mencapai keberhasilan, melainkan manusia yang memiliki perasaan, martabat, dan hak untuk diperlakukan secara layak.
Selagi seseorang masih berada di dekat kita, hargailah kehadirannya. Ketika memiliki kekuasaan, gunakanlah untuk menegakkan keadilan, bukan untuk mempertahankan kepentingan pribadi. Jangan biarkan kesombongan, ketidakpedulian, atau keputusan yang tidak bijaksana membuat kita kehilangan orang-orang berharga.
Sebab, terkadang yang paling menyedihkan bukanlah ketika seseorang pergi, melainkan ketika ia pergi setelah kita gagal menghargai kehadirannya.
(rt / rgy)